Pengungsi Merapi Mulai Jenuh, Pemkab Klaten Minta Bersabar
Berdasarkan informasi dari BPPTKG, sampai saat ini kondisi Merapi masih memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten meminta para pengungsi bersabar dan tidak kembali ke permukiman mereka yang masuk daerah rawan. Mereka juga diminta untuk menunggu perkembangan kondisi Gunung Merapi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten, Nur Cahyono Suharto mengatakan, berdasarkan informasi dari BPPTKG, sampai saat ini kondisi Merapi masih memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi.
"Kalau mendengar pengungsi Merapi di Balai Desa Balerante maupun Tegalmulyo mulai jenuh, karena lama di tempat pengungsian, Sebenarnya ini merupakan proses. Karena kalo dengan informasi dari BPPTKG, sampai saat ini kondisi Merapi masih memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi," ujar Nur Cahyono saat dihubungi wartawan, Jumat (27/11) malam.
Dengan kondisi tersebut diharapkan masyarakat khususnya pengungsi dalam kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang tinggi pula. Sesuai rencana kontijensi erupsi Merapi, pada level siaga, harus ada warga di wilayah rawan bencana yang turun, terutama untuk kelompok rentan. Yakni lanjut usia, disabilitas, ibu hamil dan anak-anak.
"Oleh karena itu, mari kita menunggu informasi rekomendasi dari BPPTKG, karena kita tidak tahu kapan erupsi Merapi akan terjadi. Yang kita inginkan adalah tidak ada korban jiwa.Jika terjadi rupsi Merapi, bagaimanapun peran pemerintah adalah melindungi warganya supaya semua selamat," katanya.
Pemerintah Kabupaten Klaten, lanjutnya, akan berusaha dengan segala kemampuan yang ada dan ditambah dukungan dari pemerintah provinsi maupun dengan bantuan pemerintah pusat.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Sri Yuwana Haris Yulianto menilai kesatuan para pengungsi Merapi tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sehingga pihaknya tidak bisa memaksakan. Menurut dia, jumlah warga yang mengeluh tidak terlalu banyak.
"Sebenarnya pola evakuasi masyarakat pada erupsi Merapi 2020 yang kita lakukan ini adalah prakarsa mandiri. Pengorganisasiannya dari sumber daya masyarakat sendiri. Dari tanggal 6 November masyarakat desa Tegalmulyo dan tanggal 7 Balerante mulai bergerak sendiri-sendiri ke pengungsian sementara. Jadi kendali pengelolaan dan manajemen di tangan pak kepala desa. Sehingga kami di BPBD bisanya mengimbau untuk senantiasa bersabar dan dinikmati lah di tempat pengungsian," pungkas dia.
Sementara itu berdasarkan data dari posko pengungsian, jumlah pengungsi hingga Kamis (27/11) malam di Kecamatan Kemalang mencapai 392 orang. 111 jiwa ditampung di Balai Desa Tegalmulyo dan 281 orang lainnya di Balai Desa Balerante. Sementara untuk hewan ternak sapi yang ikut diungsikan berjumlah 129 ekor.
Baca juga:
Gunung Merapi Mengalami 44 Kali Gempa Guguran Sejak Kemarin
Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Alami Peningkatan Dibanding Minggu Lalu
Warga Lereng Merapi Diimbau Hentikan Penambangan
Ada Jejak Misterius di Gunung Merapi, Ini Potretnya Membekas di Beton Aspal
Kemensos Salurkan Bantuan Logistik dan Tenda untuk Pengungsi Gunung Merapi