Penghargaan PBB untuk anggota Brimob pengasuh 79 anak yatim ternyata palsu
Senin, tanggal 15 Oktober 2018, personel Brimob Datasemen C Pelopor Polda Jawa Timur, Ipda Rochmat Tri Marwoto menerima penghargaan Unicef Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) karena merawat 79 anak yatim piatu sejak 2007 silam.
Senin, tanggal 15 Oktober 2018, personel Brimob Datasemen C Pelopor Polda Jawa Timur, Ipda Rochmat Tri Marwoto menerima penghargaan Unicef Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) karena merawat 79 anak yatim piatu sejak 2007 silam.
Penghargaan yang disematkan oleh perwakilan PBB, Leodewick Pasulatan di kediaman Rochman di Jalan Raya Jati, Madiun itu, juga disaksikan langsung oleh Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Luki Hermawan.
Namun belakangan diketahui bahwa penghargaan yang diberikan Pasulatan itu palsu. Ini diketahui saat pihak United Nations Information Centres (UNIC) PBB di Jakarta melakukan klarifikasi melalui keterangan pers yang diterima sejumlah media massa.
Dalam keterangan pers itu disebutkan, bahwa Pasulatan adalah general support staf PBB yang sekarang sudah tidak lagi menjabat. Dan penghargaan yang disematkan kepada Rochmat Senin kemarin itu bukan atas nama PBB.
"Pasulatan bertindak dalam kapasitasnya sendiri. PBB tidak memiliki keterlibatan dalam acara tersebut dan tidak mengizinkan menggunakan logo atau nama PBB," tulis UNIC PBB Jakarata dalam keterangan resminya, Kamis (18/10).
Penghargaan PBB bukan urgent
Dikonfirmasi terkait masalah ini, Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengaku akan melakukan pengecekan. "Memang apa yang menjadi polemik, ya, di Madiun, bagi Polri itu tidak menjadi hal yang sangat urgent, saya ulangi bukan urgent," tegas Barung di Mapolda Jawa Timur.
Menurut Barung, tugas kepolisian adalah melayani, mengayoni, dan melindungi masyarakat. Ipda Rochmat menunjukkannya dengan merawat 79 anak yatim piatu di rumahnya, di Madiun.
"Apa yang dilakukan Ipda Rochmat itu memberi inspirasi luar bisa bagi anggota Polri, 79 anak-anak terlantar, kemudian dirawat," katanya.
Meski begitu, aku Barung, pihaknya tetap akan menjawab sejumlah pertanyaan yang berkembang terkait penghargaan palsu yang diterima Rochmat. "Ini adalah marwah Kepolisian yang memang untuk melayani. Bagi Ipda Rochmat, penghargaan itu tidak penting," katanya.
Tetapi, lanjutnya, "Sejumlah pertanyaan harus kita jawab, bagi Polri yang terpenting, kepala kepolisian sudah memberikan penghargaan tertinggi yaitu menyekolahkan yang bersangkutan dan itu menjadikannya semakin bersemangat menjalankan tugas," tegas Barung.
"Dan bagi Bapak Kapolda (Irjen Pol Luki Hermawan) yang kemarin datang, itu juga penghargaan bagi yang bersangkutan. Artinya apa yang dilakukan ini inspirasi sesuai dengan tugas kepolisian melayani masyarakat," sambungnya.
Seperti diketahui, di sela aktivitasnya sebagai anggota Bromob, Ipda Rochmat juga merawat 79 anak yatim piatu di rumahnya sejak 2007 hingga sekarang. Dari puluhan anak-anak tanpa orang tua yang berasal dari Madiun, Ngajuk, Ponorogo, Pacitan, Bogor hingga Depok, Jawa Barat itu, sebagian ada yang sudah lulus perguruan tinggi.
"Sekarang tinggal 20 orang yang masih tinggal di rumah saya. Yang terkecil 1,6 bulan, yang paling dewasa 23 tahun, dan dua orang akan wisuda Desember nanti," kata Rochmat kala itu usai menerima penghargaan PBB dari Pasulatan.
Baca juga:
Kapolda Jabar janji hukum berat anggota jika terlibat penembakan di Pasteur
Polisi dalami kabar penembak Hani di gerbang Tol Pasteur adalah Brimob
Video beredar, Irjen Rudy Sufahriadi bakal jabat Kapolda Metro Jaya?
Truk pembawa pasukan terbalik, 1 tewas dan 12 Brimob luka
Dua bulan kerusuhan di Mako Brimob, Polri belum tetapkan tersangka