Pengabdian Polisi Pulau Sembilan: Menjaga Negeri di Ujung Laut dengan Segala Keterbatasan
Kisah inspiratif Pengabdian Polisi Pulau Sembilan yang tak kenal lelah menjaga keamanan dan melayani masyarakat di wilayah terpencil, menghadapi tantangan alam dan keterbatasan.
Di tengah hamparan laut luas Selat Makassar, personel Polsek Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjalankan tugasnya. Dengan rakit sederhana, Bripda Armansyah dan Bripda M. Andre Saputra menyusuri perairan untuk menyapa para nelayan yang baru kembali melaut. Aktivitas ini menjadi bagian dari patroli rutin yang menegaskan kehadiran negara di wilayah terpencil.
Patroli sambang ke kapal-kapal nelayan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya memastikan keselamatan warga yang bergantung pada hasil laut. Meskipun menghadapi keterbatasan sarana seperti tidak adanya kapal patroli, para anggota Polri ini tak surut semangat. Mereka kerap menumpang kapal nelayan, menembus ombak besar dan angin kencang demi menjangkau pulau-pulau berpenghuni.
Lebih dari sekadar penegak hukum, Polsek Pulau Sembilan juga menjadi garda terdepan dalam mengatasi berbagai persoalan masyarakat, termasuk perjuangan vital untuk menghadirkan listrik 24 jam. Kehadiran mereka, terutama para putra daerah yang direkrut melalui jalur khusus, menjadi kebanggaan dan harapan bagi 6.344 jiwa penduduk yang tersebar di tiga pulau berpenghuni.
Tantangan Patroli di Ujung Negeri
Polsek Pulau Sembilan berlokasi di Pulau Marabatuan, pusat pemerintahan kecamatan yang diapit Selat Makassar, Laut Jawa, dan selat di bagian utara. Wilayah kepulauan ini terdiri dari sembilan pulau, namun hanya Marabatuan, Maradapan, dan Matasirih yang berpenghuni. Keterbatasan sarana menjadi kendala utama dalam menjalankan tugas patroli.
Para personel tidak memiliki kapal patroli khusus, sehingga seringkali harus menumpang kapal nelayan untuk mencapai pulau-pulau lain. Jarak tempuh antar pulau pun tidak singkat, seperti perjalanan tiga jam ke Maradapan atau empat jam ke Matasirih. Bahkan, untuk menuju ibu kota kabupaten, Pulau Laut, diperlukan waktu sekitar 12 jam pelayaran.
Kondisi perairan yang tidak bersahabat dengan ombak besar dan angin kencang menambah beratnya tugas. Biaya sewa kapal nelayan yang mencapai sekitar Rp3 juta sekali jalan juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun demikian, panggilan tugas dan keikhlasan mengabdi tetap menjadi motivasi utama para anggota Polri di wilayah terpencil ini.
Selain menjaga keamanan, polisi juga aktif berinteraksi dengan nelayan, menanyakan hasil tangkapan, kondisi cuaca, tinggi gelombang, hingga kelayakan kapal. Hal ini dilakukan demi memastikan keselamatan para nelayan saat melaut. Mayoritas warga Pulau Sembilan bekerja sebagai nelayan, dengan komoditas unggulan pisang kepok dan cengkeh yang dipasok hingga luar provinsi.
Polisi Lokal Kebanggaan Masyarakat
Polsek Pulau Sembilan saat ini diperkuat oleh 13 personel di bawah pimpinan Kapolsek Iptu Agus Riyanto. Enam di antaranya merupakan anggota asli Pulau Sembilan yang direkrut melalui jalur Rekrutmen Proaktif (Rekpro). Jalur ini menjaring putra-putri daerah berprestasi dari wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) untuk mengabdi di institusi kepolisian.
Kehadiran polisi-putra daerah seperti Bripda Isman, Bripda M. Andre Saputra, Bripda Armansyah, Bripda Muhammad Inama Fajar Agung, Bripda Masrul, dan Bripda Risma, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Mereka lahir dan besar di lingkungan yang sama, sehingga lebih memahami karakter dan kebutuhan warga. Bripda Risma, satu-satunya polwan, bahkan merupakan anak nelayan yang berhasil mewujudkan cita-citanya.
Tokoh masyarakat Marabatuan, Amir, mengenang bagaimana Polsek Pulau Sembilan pertama kali berdiri pada era 1980-an dengan hanya empat personel. Menurutnya, polisi bukan hanya penegak hukum, tetapi juga tempat warga mengadu dan berbagi persoalan. Kehadiran mereka sangat berarti dalam menjaga rasa aman di tengah kerasnya kehidupan laut.
Sekretaris Kecamatan Pulau Sembilan, Agus Susanto, berharap kesempatan rekrutmen proaktif terus dibuka. Hal ini penting mengingat tidak banyak personel dari luar daerah yang bersedia bertugas di wilayah terpencil. Polisi juga berperan aktif membantu pemerintah kecamatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengurus dokumen kependudukan, yang vital untuk akses layanan pemerintah.
Perjuangan Listrik 24 Jam demi Kemajuan Pulau
Selama bertahun-tahun, masyarakat Pulau Sembilan menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan listrik. Listrik PLN hanya menyala selama 12 jam pada malam hari, membuat aktivitas siang hari bergantung pada panel surya yang dayanya tidak stabil. Kondisi ini menjadi perhatian utama Kapolsek Iptu Agus Riyanto sejak menjabat pada Oktober 2025.
Keberadaan listrik yang stabil sangat vital, tidak hanya untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga menopang layanan komunikasi dan akses internet yang kini menjadi kebutuhan dasar. Setelah memetakan kendala, diketahui masalahnya terletak pada keterbatasan subsidi bahan bakar minyak dan minimnya mesin pembangkit listrik tenaga diesel milik PLN.
Atas arahan Kapolres Kotabaru AKBP Doli Martua Tanjung, Kapolsek Agus Riyanto memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Forkopimcam, tokoh masyarakat, dan media lokal. Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil manis. Tepat pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2025, PLN mulai mengalirkan listrik selama 24 jam di Pulau Marabatuan.
Sejak awal 2026, listrik terus menyala tanpa pemadaman, membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat. Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengapresiasi dedikasi personel dan Bhayangkari di Pulau Sembilan. Polsek Pulau Sembilan menjadi bukti nyata kehadiran negara di wilayah terluar, melayani dan mengayomi masyarakat tanpa batas.
Sumber: AntaraNews