LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Pembelaan Konjen RRT: Kekerasan di Uighur Bukan Gerakan Anti Islam

Pemerintah Republik Rakyat China atau Tiongkok berdalih tindak kekerasan terhadap warga muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, bukan gerakan anti-Islam. Melainkan untuk membersihkan pengaruh ekstremisme di Negeri Tirai Bambu.

2018-12-26 20:04:49
Muslim Uighur
Advertisement

Pemerintah Republik Rakyat China atau Tiongkok berdalih tindak kekerasan terhadap warga muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, bukan gerakan anti-Islam. Melainkan untuk membersihkan pengaruh ekstremisme di Negeri Tirai Bambu.

Penegasan ini disampaikan perwakilan Konjen Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Gu Jingqi saat berkunjung di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Jalan Masjid Agung Surabaya, Rabu (26/12).

Di hadapan Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuqi Mutamar; Ketua Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo, Ustaz H Nurawi; dan Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur, Ustaz Haryanto, Jingqi menjelaskan, bahwa pemerintahnya sangat menghormati kebebasan beragama di Tiongkok. Termasuk Islam.

Advertisement

Jingqi menyebut, Tiongkok merupakan negara multi-suku dan multi-agama, seperti halnya Indonesia. Meski menjadi negara beridiologi komunis, hak-hak masing-masing warga untuk memeluk agama dan kepercayaannya, dijamin oleh undang-undang.

"Tiongkok sama seperti dengan Indonesia, berbeda kebudayaannya, berbeda suku bangsa, berbeda agamanya. Menurut konstitusi Tiongkok, setiap warga Tiongkok bisa beragama, berhak beragama tau tidak beragama," kata Jingqi yang fasih berbahasa Indonesia.

Sebagai bukti, lanjutnya, di Tiongkok, dari 56 suku bangsa, 10 suku di antaranya adalah mayoritas beragama Islam di Xinjiang yang berpenduduk sekitar 14 juta jiwa.

Advertisement

Mereka (warga Tiongkok), kata Jingqi, 100 persen diberi kebebasan beribadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing. "Sekarang jumlah seluruh umat Islam di Tiongkok adalah 23 juta (termasuk jumlah muslim di Uighur). 23 juta memang bukan mayoritas," katanya.

Tapi, Jingqi menandaskan sekali lagi bahwa pemerintah Tiongkok menghormati kebebasan tiap umat beragama, termasuk muslim di Uighur. Contohnya, pembangunan masjid di Tiongkok yang saat ini cukup banyak. "Saat ini ada 24,4 ribu masjid di wilayah Xinjing," katanya.

Jumlah ini, katanya, baru 70 persen dari total masjid di seluruh Tiongkok. Sementara jumlah ulama ada sekitar 29 ribu atau sekitar 51 persen dari total ulama di seluruh dunia. Di Xinjing juga ada 103 ormas Islam. Juga ada pula beberapa pesantren dan madrasah.

"Setiap tahun, pemerintah juga menyelenggarakan, ribuan muslim menunaikan ibadah haji di Mekkah dengan menggunakan charter flight dan menyediakan staf dokter, tukang masak, pemandu, penerjemah, dan sebagainya," jelas Jingqi lagi.

Tak hanya itu, kitab suci umat Islam, Alquran, bebas dipublikasikan. Begitu juga dengan koleksi kitab-kitab semacam Al Sahih Muhammad ibn Ismail al Buqori, yang juga telah diterjemahkan dengan bahasa Mandarin, Uighur, Kazak, Kirgiz, dan bahasa lainnya di Tiongkok.

Terpapar Paham ISIS

Namun, Jingqi menyayangkan, karena sebagian penduduk di Xinjing – khususnya di Uighur -- kurang menguasai bahasa Mandarin, kesadaran dan ilmu hukumnya terbatas, keterampilan kerja juga kurang memadai, sangat rentan terpengaruh paham ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

"Mereka mudah dipengaruhi oleh oknum ekstremisme, seperti juga ISIS," jelasnya.

Akibatnya, ungkap Jingqi, "Seperti kejadian (bom) di Surabaya, mereka melakukan aksi-aksi teror juga," ungkapnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jingqi menyebut, para ekstremis dan teroris berkedok agama, seperti halnya di Indonesia, telah melakukan sejumlah rangkaian aksi kekerasan dan teror.

Ada ribuan kali aksi dilakukan, termasuk kerusuhan pada 5 Juli 2009 di Urumqi yang mengakibatkan 197 korban jiwa dan lebih dari 1700 orang terluka.

Kemudian teror di Stasiun Kereta Api Kunming pada 1 Maret 2014 yang mengakibatkan 31 orang tewas dan 141 orang luka. "Mereka juga merancang dan melaksanakan sejumlah aksi teror yang mengakibatkan kerugian luar biasa besarnya."

Contohnya seperti teror di Shanshan pada 26 Juni 2013, di Urumqi 22 Mei 2014, di Shache 28 Juli 2014, dan di Baicheng pada 26 September 2015.

"Pemerintah Tiongkok pun perlu melakukan tindakan deredikalisasi untuk meredam aksi-aksi ini, dalam Alquran (aksi teror) bukankan dilarang, betulkan Pak Kiai?," ucap Jingqi dan memperkuat argumennya dengan bertanya ke Kiai Marzuqi.


Hati-hati Soal Uighur

Sementara Kiai Marzuki yang mendengar penjelasan Jingqi, mengatakan, bahwa jumlah penduduk Islam di Tiongkok jumlahnya banyak.

"Makanya kita harus berhati-hati betul, jangan sampai membuat statemen yang membuat Islam semakin sengsara," kata Kiai Marzuqi mengingatkan.

"Perkara ada satu dua orang yang mungkin nasibnya kurang pas, kalaupun perlu dilakukan pembelaan, tentu semuanya melakukan pembelaan," sambungnya.

Tapi, lanjutnya, jangan sampai pembelaan itu dilakukan dengan cara yang justru makin memperkeruh suasana. "Kita tetap ingin menjaga hubungan baik dengan siapa pun, mau dengan China, dengan Rusia, dengan Amerika, Korea Utara, Korea Selatan, karena kita punya kepentingan hubungan dagang, itu, pertukaran pelajar, dan lain-lain," katanya.

Dan sebagai muslim, masih kata Kiai Marzuqi, "NU ingin dakwa di manapun lancar, NU kepingin cabang NU di luar negeri semuanya lancar, terlindungi, termasuk di China, di Amerika, makanya, NU ingin berbuat baik dengan siapa pun," tandas Kiai Marzuki soal Muslim Uighur.

Baca juga:
Aksi Solidaritas untuk Muslim Uighur di Area CFD
Ma'ruf Amin Minta China Tak Mendiskreditkan Umat Muslim Etnis Uighur
Bertemu Kongres AS, PKS Suarakan Pembelaan HAM ke Palestina Hingga Muslim Uighur
Kecam Penindasan terhadap Muslim Uighur, Ormas Islam di Medan Demo Konjen China
Etnis Uighur Disebut Alami Diskriminasi, Kemlu Minta Dubes RI di China Cari Informasi

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.