Pakar: e-KTP sudah tidak aman lagi
"Dengan dasar apapun, kalau server-nya berada di negara lain, sama saja menjual seluruh data bangsa ini ke asing."
Pakar teknologi informasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Deddy Syafwan menyesalkan server basis data Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP/KTP-el seluruh penduduk Indonesia ternyata ada di luar negeri. Sehingga dengan demikian, e-KTP sudah tidak aman lagi.
"Dengan dasar apapun, kalau server-nya berada di negara lain, sama saja menjual seluruh data bangsa ini ke asing," kata Deddy seperti dikitip Antara, Minggu (17/11).
Menurut Deddy, data kependudukan adalah data dasar terpenting di sebuah negara. Data kelahiran, agama, pendidikan, alamat, nomor induk kependudukan, dan yang terpenting sidik jari.
Topik pilihan: Kolom Agama di KTP | Korupsi E-KTP
"Semua ini adalah data prinsipil kita. Buat apa kita hidup, kalau kerahasiaan data kita sudah tidak ada, pihak asing akan sangat mudah memetakan kondisi demografi kita, dan yang terpenting e-KTP sudah tidak aman lagi," jelas dia.
Ia mempertanyakan mengapa Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) begitu mudah menaruh server-nya di Belanda. Padahal di dalam negeri banyak lokasi server yang aman.
"Grand design dari e-KTP yang nantinya akan menjadi kartu identitas tunggal untuk semua sektor. Posisi server di luar negeri ini bisa membuat siapapun di luar sana bermain dengan data kependudukan kita. Tidak ada gunanya lagi kita melanjutkan program e-KTP ini," cetus dia.
Baca juga:
4 Kebobrokan e-KTP yang dibongkar Mendagri Tjahjo Kumolo
Pakar sesalkan server e-KTP di Belanda
KTP Elektronik dapat digabung dengan KIP, KIS dan KKS
Mendagri temukan e-KTP palsu buatan China dan Prancis
Mendagri hentikan program e-KTP hingga Januari 2015
Sebanyak 8 unit alat cetak e-KTP di Solo mangkrak