Orangtua ngadu ke polda, reka ulang pembunuhan 2 bocah baru digelar
Dua bocah itu ditemukan tak bernyawa pada Mei lalu di kolam galian. Saat ditemukan, ada tanda kekerasan di tubuh korban.
Polres Ogan Komering Ilir (OKI) langsung menggelar prarekonstruksi di lokasi tewasnya dua bocah bersaudara yang diduga korban pembunuhan. Prarekonstruksi itu digelar setelah Komnas Perlindungan Anak yang dipimpin Seto Mulyadi melapor ke Polda Sumsel.
Kapolres OKI, AKBP Amazon Polamania mengungkapkan, pihaknya mengirimkan personel untuk mendatangi lokasi kejadian perkara di Desa Surya Adi, Blok D, Pasar Gajah, Kecamatan Mesuji. Lokasi kejadian ada di kolam galian.
"Ini jadi atensi khusus kita. Pagi tadi tim ke sana untuk gelar prarekonstruksi," ungkap Amazona saat dihubungi merdeka.com, Kamis (15/9).
Dari laporan yang diterimanya, kata dia, petugas menguras kolam galian untuk memudahkan proses prarekonstruksi. Selebihnya, dia belum mendapat laporan lebih lanjut.
"Berapa adegannya belum tahu, tapi tadi kolamnya sudah dikuras," ujarnya.
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol R Djarod Padakova menambahkan, penyelidikan kasus ini sedang ditangani tim khusus yang dipimpin langsung Wakapolres OKI. Tim ini juga bertugas menyelidiki dugaan permintaan biaya autopsi yang dilakukan seorang penyidik kepada keluarga korban sebesar Rp 15 juga.
"Jika memang ada anggota yang meminta biaya autopsi, jelas akan diberikan sanksi tegas. Nanti diperiksa dulu biar semuanya terang, benar atau salah," tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus ini terungkap setelah orangtua korban, Idris bersama Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi datang ke Polda Sumsel untuk menanyakan perkembangan kasus tersebut, Rabu (14/9). Sebab sejak dilaporkan ke Polres OKI pada 17 Mei 2016 lalu, kasusnya tak kunjung tuntas atau jalan di tempat.
Amelia Resta Ananda (11) dan Alfin Darif Akbar (8) ditemukan tewas di kolam galian di kampungnya di Desa Surya Adi, Blok D, Pasar Gajah, Kecamatan Mesuji, OKI, 7 Mei 2016 lalu. Saat diautopsi, ditemukan adanya bekas kekerasan di tubuh kedua anaknya, termasuk di kemaluan anak perempuannya.
Untuk autopsi, seorang penyidik meminta biaya kepada keluarga korban sebesar Rp 50 juta. Setelah disepakati, keluarga korban hanya menyerahkan uang sebesar Rp 15 juta. Uang tersebut didapatkan Idris dari gadaian rumahnya kepada rentenir.
Baca juga:
Idris gadaikan rumah ke rentenir buat autopsi usut kematian anaknya
Idris menduga kedua anaknya dibunuh tetangga rumah
Menolak tembak pria kulit hitam, polisi ini dipecat
Dendam kesumat, RO bunuh remaja di malam takbiran
Minta ronde kedua, pedagang kelontong dibunuh pasangan gay
Tak kuat tanggung kemiskinan, ibu kapak 4 anaknya lalu bunuh diri
Kak Seto datangi Polda Sumsel tuntut kasus kematian 2 bocah diusut