MUI tuding pemerintah tak serius selesaikan konflik beragama
Hal itu terlihat dari cara penyelesaian konflik beragama yang terjadi di wilayah Tolikara, Papua, dan Singkil, Aceh.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang kerukunan antar umat beragama, Yusnar Yusuf mengatakan, kepolisian terlihat masih abai dalam menyelesaikan konflik beragama. Menurut dia, hal itu terlihat dari cara penyelesaian konflik beragama yang terjadi di wilayah Tolikara, Papua, dan Singkil, Aceh.
"Penegakan hukum terhadap pelaku dan aktor intelektual tragedi Tolikara belum optimal dan memenuhi rasa keadilan. Dan penanganan kasus Aceh difokuskan kepada penegakan hukum tetapi tidak mengungkap permasalahan sebenarnya," ujar Yusnar di Kantor MUI Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).
Yusnar mengaku prihatin dengan konflik yang terjadi di dua wilayah tersebut. Di sisi lain dia melihat, penanganan konflik di Tolikara dan Aceh, sungguh memprihatinkan karena kondisi tersebut membuktikan tidak adanya perlindungan terhadap setiap warga negara.
"Kondisi tersebut mencerminkan penegakan hukum yang belum optimal dan tegas serta masih diskriminatif oleh kepolisian," katanya.
Selain pihak kepolisian, Yusnar menilai kinerja para pegawai pemerintah daerah yang belum masksimal mengatasi masalah menjadi faktor lain sehingga konflik beragam di daerah tak kunjung selesai.
"Kondisi tersebut, membuktikan bahwa kepala daerah dan wakilnya dan Pemda masih terbatas kemampuan dan profesionalismenya dalam mengatasi masalah-masalah terkaiyt kerukunan antarumat beragama," pungkasnya.
Baca juga:
Di masjid California, jamaah Sunni-Syiah biasa salat bersama
Suasana pembongkaran gereja di Aceh Singkil
Potret pembagian daging hewan kurban di Myanmar
Ulil Abshar: Kunci perdamaian bisa menerima kehadiran orang lain
Kemeriahan peringatan Hari Perdamaian Dunia di Balai Kota Jakarta
Rizal Ramli ke anak muda: Kalau mau damai mulai dari hati & pikiran
Nonton Agnes Monica, Irman Gusman ngaku takut dimarahi istri