Meskipun Ada Demo, Car Free Day Jakarta Tetap Digelar, Kenapa Ya?
Gubernur DKI Jakarta memastikan Car Free Day Jakarta tetap berjalan pada Minggu (31/8) meski di tengah eskalasi unjuk rasa. Apa alasan di baliknya?
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, memastikan kegiatan Car Free Day (CFD) akan tetap dilaksanakan pada Minggu, 31 Agustus. Keputusan ini diambil di tengah eskalasi unjuk rasa yang terjadi di ibu kota. Pelaksanaan CFD diharapkan dapat menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota yang aman dan kondusif bagi warganya.
Pramono Anung Wibowo secara langsung menyampaikan pernyataan ini dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Sabtu. Ia menegaskan bahwa CFD akan tetap berjalan kecuali ada hal luar biasa yang menghambat pelaksanaannya. Hal ini menjadi sinyal kuat dari pemerintah provinsi mengenai stabilitas kota.
Kebijakan ini juga bertujuan untuk menjaga aktivitas masyarakat tetap normal di akhir pekan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya keras memastikan kenyamanan dan keamanan publik. Langkah-langkah antisipatif telah disiapkan untuk mendukung kelancaran acara tersebut.
Upaya Pemprov DKI Jamin Keamanan Car Free Day Jakarta
Untuk menjamin kelancaran Car Free Day Jakarta, Gubernur Pramono Anung telah memerintahkan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk bekerja penuh. Mereka bertugas membersihkan jalanan pasca-unjuk rasa yang telah berlangsung sejak Kamis (28/8). Pembersihan ini termasuk menghilangkan sisa efek gas air mata yang mungkin masih ada di beberapa area.
Pramono secara khusus meminta pasukan PPSU, yang dikenal dengan sebutan "pasukan pelangi" karena seragamnya yang berwarna-warni, untuk bekerja penuh. Biasanya, tidak semua petugas bekerja pada hari Minggu, namun kali ini mereka diminta bekerja penuh pada Sabtu dan Minggu. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemprov dalam menjaga kebersihan dan ketertiban kota.
Selain itu, Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik DKI Jakarta juga diminta untuk gencar menyosialisasikan pesan perdamaian kepada masyarakat. Pesan utama adalah agar warga Jakarta bersama-sama menjaga kota dari tindakan kekerasan atau anarki. Tindakan semacam itu dapat berdampak buruk pada pembangunan dan citra daerah secara keseluruhan.
Latar Belakang Unjuk Rasa di Jakarta
Keputusan tetap digelarnya Car Free Day Jakarta ini diambil di tengah serangkaian unjuk rasa yang mengguncang ibu kota. Sejumlah kelompok mahasiswa, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dan BEM Universitas Indonesia (UI), menggelar demonstrasi. Mereka berkumpul di depan Markas Polda Metro Jaya pada Jumat (29/8).
Demonstrasi tersebut dipicu oleh insiden tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan. Affan meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis (28/8) malam. Peristiwa ini memicu kemarahan publik dan seruan untuk keadilan.
Insiden yang menewaskan Affan ini kemudian memicu unjuk rasa susulan. Anggota masyarakat dan sesama pengemudi ojek daring turut serta dalam aksi protes ini. Mereka berkumpul di depan Mako Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat, menuntut pertanggungjawaban atas kejadian tersebut.
Terkait insiden rantis, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol Abdul Karim pada Jumat dini hari mengungkapkan bahwa tujuh aparat Brimob sedang dalam proses pemeriksaan. Mereka diduga terlibat dalam insiden yang menyebabkan kematian Affan Kurniawan. Proses hukum akan terus berjalan untuk mengungkap fakta sebenarnya.
Sumber: AntaraNews