Meski dipandang sinis, tapi novel karya Fredy S tetap laris manis
"Walaupun pada saat ini tidak banyak yang tahu. Biar dicemooh, tapi nyatanya tetap laris kan."
Mungkin bagi penikmat karya sastra saat ini, nama Fredy Siswanto kurang begitu akrab di telinga. Tetapi, pada masa 10 sampai 20 tahun lampau, novel karya dia paling ditunggu. Meski dijual di sudut-sudut terminal dan stasiun, emperan toko atau lapak penjaja surat kabar pinggir jalan, atau kios-kios buku murah semua ludes.
Kalangan tua muda berebut edisi baru tulisan dia saban pekan atau bulan. Bagaimana tidak, harga murah, gaya tulisan mengalir, cerita membumi, dan mudah dicerna menjadi daya pikat tiap karya dia. Ditambah satu bumbu lagi, yakni erotis.
Fredy S, seperti itu namanya tertera dalam tiap sampul karyanya, dikenal sebagai salah satu penulis novel bertema percintaan. Tidak banyak yang tahu seperti apa sosok dan pribadinya, pun sampai hari ini. Entah benar-benar misterius atau mungkin dia memang rendah hati dan enggan muncul ke depan khalayak ramai.
Kebanyakan karyanya yang berbicara tentang siapa dia. Tetapi tentu hal itu tidak bisa dijadikan patokan. Di zamannya, berbagai tulisan dia mampu membius imajinasi pembacanya. Tetapi, buat beberapa kalangan, karya dia bukan apa-apa. Sebagian menganggap tulisan dia hanyalah untaian kata-kata cabul dibalut romantika terkesan suci. Hanya picisan.
Tetapi, novel yang picisan itu sudah ada lebih dari 300 judul dan hampir dipastikan semuanya laris manis. Sungguh sebuah prestasi yang tidak dapat dinafikan oleh siapapun.
Fredy Siswanto, Abdullah Harahap, Motinggo Busye dan beberapa sastrawan "kaki lima" lain tidak bisa disangkal kehadirannya dalam mewarnai dunia sastra Indonesia. Meski beberapa karyanya dicibir lantaran kerap menyelipkan plot adegan erotis yang membangkitkan birahi, ternyata jualannya bisa tembus sampai ke negeri tetangga macam Malaysia dan Brunei Darussalam.
Penulis buku Jakarta Undercover, Muammar Emka, mengatakan kehadiran Fredy Siswanto, di jagad sastra Indonesia tidak bisa diingkari.
"Karya Fredy Siswanto memang tidak bisa dilupakan, walaupun pada saat ini tidak banyak yang tahu. Biar dicemooh, tapi nyatanya tetap laris kan. Apalagi saat itu novel romantis berbumbu erotis menjadi konsumsi orang banyak,' kata Emka saat dihubungi merdeka.com lewat telepon seluler, beberapa waktu lalu.
Harus diakui, walau bagaimanapun berbagai novel karya Fredy S. juga berusaha menarik minat kaum muda agar gemar membaca. Bahkan, salah satu novelnya berjudul Senyummu Adalah Tangisku pernah diangkat ke layar lebar dengan pemeran utama bintang remaja top pada masa itu, Rano Karno dan Anita Carolina.
Namun, tetap saja di dunia sastra Indonesia, Fredy Siswanto diangggap tidak pernah ada. Memang karya dia tidak melegenda, atau paling tidak bisa disejajarkan dengan para pendekar sastra macam Sutan Takdir Alihsyahbana, W.S. Rendra, Romo Mangunwijaya, maupun H.B. Yassin. Mau tidak mau, dia harus terima karyanya terhempas dan terpinggirkan dan harus puas dengan cap sebagai roman picisan.
Selain menulis novel, Fredy Siswanto juga pernah menggarap skenario beberapa film layar lebar, antara lain berjudul Di Sana Mau Di Sini Mau (1989), Penakluk Srigala (1983), Gepeng Bayar Kontan (1983), dan Lara Jonggrang (Candi Prambanan) (1983).
Meski harus puas dicap sebagai sastrawan kelas bawah, picisan, kaki lima, dan segudang cibiran lainnya, toh nama Fredy Siswanto dan karyanya masih menjadi buruan sebagian kalangan sampai saat ini. Entah apa mereka benar-benar menikmati setiap bait dalam paragraf novel itu, atau hanya sekedar ingin memanjakan khayalan erotis, hanya mereka yang tahu.
Baca juga:
Cerita mereka yang pernah membaca novel Fredy Siswanto
Novel karya Fredy S, laris karena bumbu-bumbu erotis
Novel-novel karya Fredy S yang difilmkan
300 Novel Fredy S melambung dari Malaysia hingga Brunei Darussalam
Mengenang Fredy S, novelis 'roman picisan' yang kini terlupakan