Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita mereka yang pernah membaca novel Fredy Siswanto

Cerita mereka yang pernah membaca novel Fredy Siswanto ilustrasi novel fredy s. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Penikmat novel karya penulis dalam negeri yang besar di era 1980 hingga 1990-an mungkin tidak asing dengan nama Fredy Siswanto. Karya pria yang jarang menuliskan biografi di setiap novelnya ini mampu bersaing dengan deretan novelis populer seperti Hilman Hariwijaya, Bastian Tito hingga Enni Arrow.

Harga murah, gaya tulisan mengalir, cerita membumi, mudah dicerna dan ditambah dengan bumbu erotis menjadikan tulisan Fredy S kerap diburu saban pekan atau bulan. Dengan mudah, novel setebal kurang dari 200 halaman ini dapat ditemukan dengan mudah di sudut-sudut terminal dan stasiun, emperan toko atau lapak penjaja surat kabar pinggir jalan, atau kios-kios buku murah.

Novel karya Fredy Siswanto kerap disebut sebagai 'karya picisan' yang hanya menjual adegan erotis pembangkit birahi. Bahkan di dalam dunia sastra, pria pemilik nama asli Bambang Eko Siswanto dianggap tidak pernah ada. Meski beberapa karyanya dicibir lantaran kerap menyelipkan plot adegan erotis yang membangkitkan birahi, ternyata jualannya bisa tembus sampai ke negeri tetangga macam Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pembaca novel Fredy S pun beragam, mulai dari mereka yang besar di awal 1980-an hingga mahasiswa yang besar ketika sosial media mulai bermunculan. Beragam alasan yang diutarakan, kenapa mereka menyukai novel yang masuk ke dalam novel stensilan tersebut.

Berikut pernyataan beberapa orang yang pernah membaca novel Fredy S.

Kenal novel Fredy S karena hobi membaca

fredy s karena hobi membaca rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Bagi orang yang memiliki hobi membaca, apa pun jenis bacaan, pasti akan dilumat. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Mutya Saroh, saat mengenal novel Fresy Siswanto di rumah temannya medio 2005. Saat itu, Aya, sapaan akrabnya masih duduk di bangku sekolah."Novel itu saya lihat pertama waktu SMA di rumah teman saya yang umurnya kurang lebih dua tahun di atas saya. Jadi kalau nemu buku apa, suka di baca gitu aja," kata Mutya Saroh saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (13/2).Perempuan lulusan Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku, ketertarikannya membaca karya Fredy S karena kondisi lingkungan. "Buat hiburan karena dulu di desa nggak ada perpustakaan," ujarnya.Jika membandingkan karya Fredy S dengan novel percintaan remaja saat ini, atau yang biasa disebut teenlit, Aya menemukan banyaknya perbedaan. Menurutnya, novel percintaan remaja saat ini tidak sevulgar tulisan Fredy."Teenlit saat ini (yang baru-baru ini) kebanyakan memasuki unsur moralitas dari sisi agama. Atau dengan kata lain dunia hitam putih. Padahal dunia yang sebenarnya kan nggak begitu. Yang jelas teenlit saat ini nggak akan melukiskan adegan seks," paparnya.

Sampul novel Fredy S yang catchy

fredy s yang catchy rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Mungkin istilah 'don't judge a book by its cover' tidak berlaku bagi Jaka. Ketertarikannya membaca karya novelis Fredy Siswanto justru berawal dari sampul depannya yang menurutnya sangat menarik."Waktu pertama kali lihat novelnya Fredy S, yang saya lihat cover-nya sangat cacthy, menarik. Ada gambar cewe sama cowo tidur di ranjang, terus judulnya yang gimana gitu," kata Jaka saat dihubungi merdeka.com, Jumat (13/2).Pria yang saat ini tercatat sebagai seorang wartawan di Jambi ini mengaku, membaca novel Fredy S pertama kali saat dirinya menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Yogyakarta. Saat itu, dirinya secara tidak sengaja menemukan novel stensilan tersebut di sebuah sudut perpustakaan."Novelnya saya temukan di bawah meja, kayanya sengaja disembunyikan dari jangkauan anak-anak. Novel Fredy S kan buat orang dewasa," ujarnya.

Baca novel Fredy S karena rasa penasaran

fredy s karena rasa penasaran rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Era 1980 hingga 1990-an bisa dikatakan masa di mana sejumlah besar penulis lokal seperti Hilman Hariwijaya atau Hilman Lupus, Bastian Tito pengarang Wiro Sableng, hingga Fredy Siswanto mengalami masa kejayaannya. Saban bulan, setiap orang dengan sabar menunggu karya terbaru mereka keluar.Hal itu pula yang dialami Faiz Ahsoul, yang pada tahun 1980 masih berseragam biru putih. Saat itu, sama dengan remaja seusianya, Faiz melahap semua karya novelis tersebut karena rasa penasaran."Tertarik itu dulu, masa remaja. Kalau sekarang sudah tidak. Bahkan mungkin sudah 15 tahun lebih tidak baca novel Fredy S lagi. Hanya saja, tidak sesering dulu di masa remaja. Jadi ketertarikannya lebih pada rasa penasaran masa pertumbuhan remaja," kata Faiz saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (13/2).Terkait pernyataan beragam pihak yang mengatakan jika karya Fredy S penuh dengan muatan erotis, menurutnya hal tersebut tergantung dari sudut pandang seseorang. Bagi remaja usia belasan tahun, tulisan Fredy S dapat dikatakan erotis."Tapi kalau sekarang, refleksi pandangan saya tidak sebatas narasi erotis, tapi sebuah narasi potret kehidupan anak muda perkotaan (metropolitan) tahun 80-90an. Saya yang lahir dan tumbuh kembang sampai masa remaja di pedesaan, ketika baca novel Fredy S, cukup terbantu untuk membayangkan bagaimana satu dari sekian gambaran kehidupan anak muda perkotaan," ujarnya.

Kenal karya Fredy S dari teman

fredy s dari teman rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Bagi sebagian remaja, jika tidak ingin dibilang kuper alias kurang pergaulan, maka cara paling aman adalah dengan mengikuti apa-apa yang sedang trend. Salah satunya dengan mengkoleksi novel-novel karya Fredy Siswanto."Sebenarnya enggak terlalu ngikutin banget sih. Saya sendiri lupa, ada berapa buku Fredy yang sudah dibaca. Empat atau lima, gitu," kata Rizal saat dihubungi merdeka.com, Jumat (13/2).Pria yang menamatkan SMA pada tahun 1992 ini menjelaskan, dirinya harus pergi ke Terminal Senen, untuk bisa mendapatkan novel Fredy S. Rizal mengaku secara sembunyi-sembunyi ketika ingin membaca novel stensilan tersebut."Dulu tuh kalau mau baca, harus malam, nunggu orang rumah sudah pada tidur. Soalnya, zaman dulu kan novel ini sudah bisa dibilang novel yang banyak adegan seks-nya, jadi suka takut juga bacanya kalau sampai ketahuan," ujarnya.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP