Meraup rupiah lewat maraknya muslim muda kelas menengah
Bisnis hijab jadi menggiurkan karena trend yang terjadi saat ini.
Gaya hijab penuh warna sedang menjadi trend akhir-akhir ini. Banyak wanita muslim yang memutuskan untuk berhijab karena dianggap memiliki ciri fashion yang lebih modern, namun tetap memegang teguh nilai-nilai agama.
Bisnis busana hijab modern terutama syar'i pun semakin diminati. Seperti halnya Dyah Mustika (22) seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) memanfaatkan fenomena fashion syar'i yang semakin digemari kalangan wanita muslim. Setali tiga uang, ia meraup keuntungan dari hasil penjualannya.
"Usaha ini sejak tahun 2012 sih, ini usaha sampingan saja lumayan kan keuntungannya bisa untuk biaya kuliah," ungkap Dyah melalui pesan singkat saat dihubungi merdeka.com, Jumat (12/2).
Usahanya yang telah ditekuninya sejak tahun 2012 tersebut dapat meraup keuntungan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta perbulan.
"Apabila musim lebaran tiba, keuntungan yang didapatkan bisa hingga mencapai Rp 5 juta," ujarnya.
Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, semakin besarnya peningkatan permintaan fashion maka akan semakin meningkat juga peningkatan produksi.
"Permintaan semakin meningkat maka produksi otomatis juga akan meningkat," ucap Enny.
Ia menganalogikan bahwa apabila seseorang telah memiliki sepotong gamis, namun ia belum memiliki gamis dengan model terbaru, maka ia akan membeli gamis terbaru. Tujuannya agar tidak ketinggalan zaman dengan trend yang sedang hangat-hangatnya.
Namun ia menyayangkan dengan adanya pergeseran fashion di Indonesia, karena melupakan tujuan awal menggunakan hijab untuk menutup aurat.
"Kalau ada orang udah punya gamis, tapi belum punya gamis model terbaru, maka orang itu pasti akan beli. Tapi niat awal pakai hijab kan untuk nutup aurat, hal ini perlu diluruskan," ungkap Enny Sri Hartati.
Baca juga:
Umroh, trend baru muslim muda kelas menengah
Tetap Trendi asal masih Syar'i
Fenomena Muslim kelas menengah di Indonesia