Menteri Ekraf: Akar Budaya Jadi Fondasi Kuat Ekonomi Kreatif Indonesia
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan akar budaya kuat sebagai fondasi utama penguatan Ekonomi Kreatif Indonesia, mendorong inovasi dan digitalisasi serta kolaborasi dengan generasi muda.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa akar budaya yang kuat merupakan fondasi vital bagi penguatan ekonomi kreatif di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah audiensi di Jakarta pada Sabtu (14/3).
Menurutnya, kekayaan budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke adalah hulu yang tak ternilai bagi sektor ekonomi kreatif. Potensi ini siap dioptimalkan melalui sentuhan inovasi, kreativitas, dan teknologi digital.
Penegasan ini muncul saat Kemenekraf menerima kunjungan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Universitas Gajah Mada (HIPMI PT UGM). Pertemuan tersebut membahas pengenalan ekonomi kreatif serta rencana penyelenggaraan Entrepreneurs Leadership Conference 2026.
Akar Budaya sebagai Fondasi Utama Ekonomi Kreatif Indonesia
Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki akar budaya yang sangat kuat dan beragam di seluruh wilayahnya. Kekuatan budaya ini menjadi modal utama atau hulu bagi pengembangan ekonomi kreatif nasional.
Dia menambahkan, ketika akar budaya yang kaya tersebut dipadukan dengan inovasi, kreativitas, teknologi, termasuk digitalisasi, maka akan tercipta hilirisasi yang menghasilkan nilai ekonomi signifikan. Proses ini adalah inti dari ekonomi kreatif.
Pemanfaatan warisan budaya lokal secara inovatif dipercaya dapat mendorong Indonesia menjadi tujuan utama dalam pengembangan ekonomi kreatif global. Hal ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki bangsa.
Kolaborasi Strategis dengan Generasi Muda dan UMKM
Kemenekraf menyambut baik inisiatif HIPMI PT UGM yang menunjukkan pemikiran progresif mengenai pengembangan ekonomi kreatif. Salah satu bentuk apresiasi adalah dukungan terhadap gelaran Entrepreneurs Leadership Conference 2026.
Acara tersebut dirancang sebagai forum diskusi strategis yang mempertemukan pemerintah, pelaku UMKM, akademisi, dan pemengaruh. Tujuannya adalah membahas tantangan serta peluang UMKM Indonesia di tengah perubahan konsumsi masyarakat dan adaptasi digital yang pesat.
Ketua Umum HIPMI PT UGM, Aswin Hadyan R, menyampaikan harapannya agar kewirausahaan generasi muda, khususnya UMKM berbasis kreatif dan digital, dapat semakin maju. Ini berlaku baik di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.
Menurut Aswin, ekonomi kreatif merupakan pilar penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi di era digitalisasi dan transformasi global saat ini. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi krusial.
Mengoptimalkan Peluang di Era Digital dan Globalisasi
Konferensi yang digagas HIPMI PT UGM ini bertujuan untuk menjawab tantangan dan mengidentifikasi peluang UMKM di tengah perubahan ekonomi serta percepatan digital. Ini mencerminkan pemahaman mendalam akan dinamika pasar.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa tugas utama Kemenekraf adalah mencari "Local Hero" dari 17 subsektor yang ada untuk bisa bersaing di kancah global. Ini merupakan bagian dari strategi besar.
Kemenekraf menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dan hadir dalam kegiatan yang diadakan oleh HIPMI PT UGM tersebut. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif.
Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas, diharapkan potensi ekonomi kreatif Indonesia dapat teroptimalkan. Hal ini akan memperkuat daya saing bangsa di pasar internasional.
Sumber: AntaraNews