Meninggal di AS, Jenazah Yurike Sanger Istri ke-7 Soekarno Segera Dibawa Pulang ke Indonesia
Yurike Sanger telah meninggal dunia di Amerika Serikat pada usia 80 tahun. Dia menghembuskan napas terakhirnya di sana.
Istri ketujuh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yaitu Yurike Sanger, telah meninggal dunia di Amerika Serikat pada usia 80 tahun. Jenazahnya segera dipulangkan ke tanah air, dan proses pemulangan ini dibantu oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Los Angeles, yang saat ini sedang mengurus semua keperluan administrasi di negara tersebut.
"KJRI Los Angeles membantu proses pemulangan jenazah ke Indonesia berkoordinasi dengan pihak mortuary dan otoritas di AS," kata Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, Jumat (19/9).
Menurut Judha, pihak otoritas di California sedang memproses surat keterangan kematian (death certificate), yang merupakan dokumen penting untuk memulai proses repatriasi jenazah.
KJRI juga telah menjalin komunikasi dengan keluarga Yurike Sanger yang berada di San Bernardino, California.
"Pihak keluarga telah menunjuk pihak mortuary untuk proses pemulasaraan jenazah," ujar Judha.
Judha menjelaskan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan pemulangan jenazah berlangsung dengan baik dan sesuai prosedur.
Anak Yurike Sanger Menginformasikan Kabar Kepergian Ibunya
Kabar duka mengenai meninggalnya Yurike Sanger diumumkan oleh putranya, Yudhi Sanger. Ia menyampaikan bahwa Yurike Sanger telah meninggal dunia pada tanggal 17 September 2025, tepatnya pukul 19.15 waktu Amerika Serikat. Dalam unggahannya di Instagram, Yudhi menuliskan 'Rencana akan dibawa ke Rumah Duka di RS Fatmawati (waktu menyusul).'
Yudhi juga menambahkan ungkapan haru 'In loving memory, Yurike Sanger. Beloved mother, grandmother, and great grandmother,' yang mencerminkan betapa besar kasih sayang dan penghormatan yang diberikan kepada ibunya.
Yurike Sanger menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit San Gorgonio Memorial yang terletak di California, Amerika Serikat. Momen ini tentunya menjadi kehilangan yang mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Sosok Yurike Sanger
Yurike Sanger dilahirkan di Poso, Sulawesi Tengah, pada tahun 1945. Ia berasal dari keturunan campuran Jerman dan Manado. Pertama kali bertemu dengan Presiden Soekarno pada tahun 1963, saat Yurike masih berstatus pelajar SMA. Pada saat itu, ia merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah organisasi yang bertugas menyambut tamu negara dalam acara kenegaraan. Yurike terpilih sebagai wakil untuk menyambut tamu internasional, termasuk tamu-tamu penting dari Soviet. Yurike pernah menyatakan, "Saya terpilih sebagai salah satu dari barisan bhinneka tunggal ika." Soekarno, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Indonesia, merasa tertarik pada Yurike ketika melihatnya mengenakan kebaya. Pertemuan ini menjadi awal dari hubungan pribadi antara Yurike Sanger dan sang proklamator.
Hubungan antara Yurike Sanger dan Soekarno berlanjut hingga mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 1964. Pada saat itu, Yurike masih sangat muda, berusia 19 tahun, sedangkan Soekarno sudah berusia 64 tahun. Pernikahan ini menjadikan Yurike sebagai istri ketujuh Soekarno. Mereka menjalani pernikahan selama empat tahun, dari tahun 1964 hingga 1968. Selama masa pernikahan, Yurike memutuskan untuk menjadi mualaf dan memeluk agama Islam setelah menikah dengan Soekarno. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi Muslim. Meskipun hidup dalam sorotan publik sebagai istri presiden, Yurike lebih memilih untuk berperan di balik layar. Ia tidak seperti beberapa istri Soekarno lainnya yang sering tampil di depan publik, melainkan lebih dikenal melalui kegiatan sosialnya.
Setelah empat tahun menikah, Yurike Sanger dan Soekarno sepakat untuk bercerai dengan cara baik-baik pada tahun 1968. Perceraian ini terjadi di tengah situasi politik Indonesia yang memanas pasca-peristiwa G30S PKI. Meskipun demikian, nama Yurike tetap tercatat dalam sejarah keluarga besar Presiden Pertama RI sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Setelah bercerai dari Soekarno, Yurike menemukan cinta baru dan menikah untuk kedua kalinya. Ia kemudian memilih untuk tinggal di Amerika Serikat bersama keluarganya. Dalam perjalanan hidupnya, Yurike Sanger juga kembali memeluk agama Kristen, agama yang dianutnya sebelum menikah dengan Soekarno. Sebelum meninggal, Yurike didiagnosis mengidap kanker payudara.