LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mengenang Mozes Gatutkaca, korban tragedi Mei 98 di Yogyakarta

Mozes meninggal dengan kondisi mengerikan. Dia diduga dianiaya aparat hingga mengembuskan napas terakhir saat rusuh demo Mei 1998 di Yogyakarta. Hingga kini penyelidikan kasus kematian Mozes masih buram.

2017-05-17 06:00:00
Tragedi Mei 98
Advertisement

Masih segar dalam ingatan Sandiman (65) warga Gang Brojolamatan nomor 4, Mrican, Depok Sleman tentang sosok Mozes Gatutkaca yang tinggal hanya berjarak dua rumah darinya. Sandiman ingat betul bahwa seusia adzan Magrib saat Gatut (panggilan akrab Mozes Gatutkaca) bersama seorang kawannya keluar mencari makan di tanggal 8 Mei 1998, dirinya sempat mencoba mengingatkan agar Gatut tak keluar rumah.

"Saya tanya Mas Gatut mau ke mana? Kemudian dijawabnya mau cari makan. Kemudian saya ingatkan bahwa di daerah Gejayan sedang ada ramai-ramai orang demo. Jangan jauh-jauh cari makannya mas Gatut. Dia cuma menjawab iya pak. Cuma cari makan di dekat sana saja kok," tutur Sandiman kepada merdeka.com saat ditemui, Kamis (11/5).

Usai saya ingatkan, lanjut Sandiman, Gatut pun pergi bersama temannya mencari makan. Gatut pergi dengan berjalan kaki.

Mozes Gatutkaca adalah salah seorang korban meninggal dunia saat demo-demo menuntut Soeharto turun meletus di banyak kota medio 1998. Di tanggal 8 Mei 1998, demo besar meletus di Jalan Gejayan yang saat ini berganti nama menjadi Jalan Affandi, Sleman, DIY. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul di Jalan Gejayan untuk menuntut Soeharto turun.

Suasana pada 8 Mei 1998 di Gejayan saat itu cukup mencekam. Ribuan mahasiswa berkumpul dan berorasi sembari dikepung oleh petugas keamanan. Sempat beberapa kali terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Semprotan air dari water canon dan gas air mata milik aparat keamanan yang kemudian dibalas dengan lempar batu peserta aksi, beberapa kali terjadi di sore itu. Sepanjang Jalan Gejayan mengalami kelumpuhan aktivitas. Jalan diblokir oleh aparat keamanan agar peserta demo tidak meluas.

Usai adzan Magrib berkumandang suasana semakin panas. Aparat keamanan yang bertugas mencoba membubarkan ribuan pendemo yang berkumpul. Tetapi upaya pembubaran ini mendapatkan perlawanan dari mahasiswa. Bentrokan pun kembali terjadi. Kali ini aparat keamanan menurunkan kekuatan penuh untuk membubarkan peserta aksi. Motor-motor trail dikerahkan dan mobil water canon pun merangsek mengejar mahasiswa hingga masuk ke dalam permukiman warga. Aparat keamanan menyisir dan mencari mahasiswa yang melarikan diri hingga ke dalam kampung-kampung.

Saat 8 Mei 1998 itu, Mozes Gatutkaca ditemukan tergeletak tak jauh dari Kampus Sanata Dharma, Yogyakarta. Gatut yang merupakan anak keempat dari empat bersaudara ditemukan tergeletak dengan bersimpah darah di kepalanya. Gatut pun segera dilarikan ke RS Panti Rapih Yogyakarta.

"Gatut ditemukan sekitar pukul 10 malam. Saat itu ditemukan sudah penuh darah dan tak sadarkan diri. Saya mendapatkan telepon dari tetangga di Mrican sekitar pukul 02.00 dini hari yang mengabarkan bahwa Gatut meninggal dunia dan saat itu jenazahnya ada di RS Panti Rapih," ujar Tini, kakak pertama Mozes Gatutkaca, Jumat (12/5) petang.

Tini mengungkapkan bahwa telepon yang diterimanya itu membuatnya terkejut dan syok. Untuk mengecek kebenaran kabar meninggalnya Gatut, Tini pun meminta suaminya untuk mengeceknya di RS Panti Rapih.

"Awal saya tak percaya saat dikabari Gatut meninggal karena demo di Gejayan. Saat itu Gatut sudah berumur 40 tahun dan sudah lama lulus dari kuliahnya di Akprind. Gatut malah sudah sempat kerja di beberapa tempat usai lulus kuliah. Setahu saya Gatut tak punya latar belakang aktivis atau apapun itu," terang Tini.

Tini menceritakan bahwa saat suaminya tiba di RS Panti Rapih, sempat terjadi ketegangan kecil saat akan membawa pulang jenazah Gatut. Pihak kepolisian saat itu ingin menahan jenazah Gatut untuk memastikan siapa sebenarnya Gatut itu. Tapi suami saya bersikeras agar jenazah bisa segera dibawa pulang.

"Suami waktu itu cerita ke saya bahwa jenazah Gatut terus menerus mengeluarkan darah dari telinga dan hidungnya. Kemudian ada bekas memar di belakang kepalanya. Kalau bagian tubuhnya yang lain tidak ada yang luka. Dari keterangan dokter waktu itu, memar di belakang kepala karena hantaman benda tumpul," kenang Tini.

Tini memaparkan bahwa seorang teman Gatut yang menemaninya keluar mencari makan juga mengalami luka. Bahkan kacamatanya sampai rusak. Tapi, sambung Tini, teman Gatut berhasil melarikan diri sedangkan Gatut tidak bisa melarikan diri.

"Saya lupa siapa nama teman Gatut. Tapi dia teman akrab Gatut. Mereka sering kumpul-kumpul bareng. Dia cerita bahwa yang memukul Gatut adalah polisi," terang Tini.

Tini mengatakan bahwa beberapa hari setelah meninggalnya Gatut, dirinya sempat dipanggil oleh Provos untuk dimintai keterangan. Waktu itu Tini datang ke kantor Provos yang berada di Jalan Magelang. Selain Tini, ada beberapa saksi lainnya yang dipanggil Provos untuk dimintai keterangan kematian Gatut.

"Saya sempat diberitahu oleh seorang pedagang yang berjualan di sekitar Mrican. Saya lupa namanya tapi kami ketemu saat sama-sama diperiksa di Provos. Saya diperiksa sebagai keluarga sedangkan dia diperiksa sebagai saksi karena saat itu dia sedang berjualan. Dari cerita penjual itu saya tahu bahwa saat itu Gatut dikeroyok oleh aparat. Saat itu Gatut sempat teriak ampun pak, saya tidak tahu apa-apa. Dia berteriak sambil jongkok dan tangannya melindungi bagian kepala," ucap Tini sambil menghela napas panjang.

Tini menyampaikan bahwa setelah pemeriksaan oleh Provos, tak pernah ada tindak lanjutnya hingga saat ini. Keluarga, lanjut Tini, hingga saat ini tak pernah tahu siapa yang membunuh Gatut.

"Saya dulu berharap agar siapa pembunuh Gatut bisa terungkap. Tetapi hingga saat ini tak kunjung terungkap siapa orangnya. Saat ini saya sudah pasrah saja," pungkas Tini.

Baca juga:
Peringatan tragedi Mei jadi awal kebangkitan Trisakti masuk era baru
Jokowi-JK diminta selesaikan pelanggaran HAM tragedi Mei 98
Nama jalan yang selalu dikenang
Kehidupan pribadi Mozes Gatutkaca
Kesaksian penggali kubur saat Mozes Gatutkaca dimakamkan
Ribuan pelayat antarkan Mozes Gatutkaca ke peristirahatan terakhir

Advertisement
(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.