LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Menengok pengungsi Gunung Agung di tepi Danau Buyan

Sedikitnya ada 200-an pengungsi asal Karangasem masih terlihat lelap berselimut kabut di tepi Danau Buyan, Pancasari Buleleng. Sebuah daerah perbatasan antara Kabupaten Buleleng dengan Tabanan.

2017-10-04 09:26:38
Erupsi Gunung Agung
Advertisement

Pagi ini Rabu (4/10) pukul 08.00 waktu di Bali, udara dingin menyelimuti para pengungsi. Nampak bocak mungil didekap ayahnya di pengungsian yang tidak terjamah oleh para relawan, jauh dari yang namanya keramaian dan hawa panas Gunung Agung.

Sedikitnya ada 200-an pengungsi asal Karangasem masih terlihat lelap berselimut kabut di tepi Danau Buyan, Pancasari Buleleng. Sebuah daerah perbatasan antara Kabupaten Buleleng dengan Tabanan.

Mereka mengungsi di Banjar Sari Kauh Desa Pancasari di tepi Danau Buyan yang berjarak hanya 1 km dari Danau Beratan Bedugul Tabanan. Di tempat itu mereka mencari aman dari amukan Betara Toh Langkir yang bersetana di Gunung Agung, sewaktu-waktu akan erupsi.

Seorang pria paruh baya terlihat duduk sambil menggenggam segelas kopi. Dari bibirnya terus mengeluarkan asap. Bukan asap rokok, tapi karena udara dingin yang mencapai di bawah 19 derajat celsius.

"Di sini kami sangat tenang. Jauh dari keramaian. Terlindungi bukit, bisa lihat Dewi Dany dan mancing setiap hari," kata Nengah sambil mengepakkan sarungnya menutupi raga.

Bapak ini mengaku asal dari Dukuh yang desanya hanya berjarak sekitar 4 km dari kawah Gunung Agung.

"Kalau dingin dan sanyong (kabut) setiap hari di desa ada. Sama seperti di sini tiap hari lihat sanyong," ujarnya.

Dikatakannya kalau hari sudah siang saat kabut naik, anak-anak main di tepi danau. Bapak-bapaknya pada mancing ikan. Kalau dapat langsung dibakar walau tanpa bumbu.

Mereka tinggal di sebuah bangunan nelayan berdindingkan tembok beratapkan genteng. Dengan kondisi Gunung Agung saat ini, para pengungsi di tempat ini sangat ingin pulang.

Terlebih besok 5 Oktober adalah hari Purnama dan harus sembahyang di Pura. "Mau pulang siapa yang antar. Desa kami katanya harus dikosongkan tidak boleh pulang," jelas Nengah.

Untuk diketahui, para pengungsi di Kabupaten Buleleng sebelumnya secara keseluruhan menerima pengungsi sebanyak 17 ribu.

Namun jumlah itu sudah jauh menurun sejak diperintahkannya untuk yang desanya aman dari bencana erupsi Gunung Agung warganya pulang. Bahkan mereka yang desanya masuk daerah rawan juga ikut balik pulang kampung.

Hingga kini belum ada laporan resmi jumlah pengungsi yang pergi dari posko pengungsian.

Baca juga:
Status awas Gunung Agung diperkirakan pengaruhi kunjungan turis
Sekolah ini tetap beraktivitas meski di radius 8 km dari Gunung Agung
Pengungsi Gunung Agung nekat pulang ke rumah demi urus hewan ternak
Antisipasi lahar dingin Gunung Agung, tanggul Sungai Unda diperbaiki
Gubernur Bali ingatkan pelaku pariwisata tak jual paket tur Gunung Agung

(mdk/fik)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.