Mendikdasmen Sentil Masyarakat Terjangkit Virus Viralitas: Dikit-Dikit Upload yang Penting Viral
Dalam konteks ini, ia merujuk istilah dr. Jean Twenge yang disebut dengan narcissism epidemic.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti bicara mengenai narsisme yang kerap terjadi di masyarakat. Menurutnya, orang sedikit-sedikit mengunggah konten di media sosial lantaran ingin viral.
"Ada yang saya sebut dengan virality virus atau virus viralitas. Dimana orang itu ingin supaya viral. Ingin supaya dia menjadi terkenal," kata Abdul Mu'ti dalam menghadiri puncak Dies Natalies Universitas Negeri Semarang ke-60, Minggu (8/6).
Dalam konteks ini, ia merujuk istilah dr. Jean Twenge yang disebut dengan narcissism epidemic.
"Atau penyakit narsisme dimana orang dikit-dikit upload. Upload kok dikit-dikit kira-kira begitu," ucapnya.
Mu'ti berujar, terkadang orang lebih mementingkan viral semata. Persoalan sesuai moral atau tidak itu hal belakangan.
"Yang kadang-kadang orang yang penting viral. Soal itu sesuai dengan moral atau tidak itu belakangan. Yang penting viral dulu," ucapnya.
"Bahkan sekarang ada adagium yang menurut saya perlu kita kritisi. Adagium itu berbunyi no viral no justice. Kalau enggak viral enggak ada tindakan, enggak ada keadilan," pungkasnya.
Kajian AI
Sebelumnya, Abdul Mu'ti mengatakan telah menyelesaikan kajian akademik dan uji publik untuk menerapkan coding dan artificial intelegence (AI) sebagai mata pelajaran bagi para siswa-siswi se-Indonesia.
Bahwa coding dan AI jadi mata pelajaran karena dalam era serba digital dua hal itu dianggapnya bisa mendongkrak kualitas pendidikan. Dalam tahapan tahun ini, pihaknya sedang berusaha melatih para guru agar nantinya dapat mengajarkan mata pelajaran coding dan artificial kepada para siswanya.
"Kami sudah selesaikan naskah akademik dan ada kajian publik. Para guru sudah mulai dilatih mengajar mata pelajaran coding dan artificial. Ini bagian konsekuensi meningkatkan mutu pelayanan pendidikan," kata Abdul Mu'ti.
Coding tidak bisa dilepaskan dari AI karena menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari program kecerdasan buatan.
"Teknologi digital dan kedekatan artificial tidak bisa lagi kita hindari. Maka kebijakan kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai tahun ajaran 2025/2026 ini kami mengajarkan mata pelajaran coding dan kecerdasan artificial sebagai pelajaran pilihan," ujarnya.
Melihat pada pertemuan menteri-menteri pendidikan negara APEC, Mu'ti juga menyampaikan ada hasil yang menyatakan kecerdasan artificial dan teknologi digital memang jadi sarana mengatasi kesenjangan mutu pendidikan.
"Kami hadiri pertemuan menteri menteri pendidikan negara APEC bagaiamana dikaitan antara kecerdasan artificial ini dengan teknologi digital menjadi sarana mengatasi akses kesenjangan mutu pendidikan. Ternyata tidak hanya dihadapi Indonesia tetapi juga negara maju. Termasuk Australia juga menghadapi masalah terutama pada suku asli Aborigin," jelasnya.
Pihaknya mendorong kepada insan pendidikan Indonesia turut aktif menguasai AI namun tidak untuk disalahgunakan untuk tindakan yang bertentangan dengan moral bangsa Indonesia.