LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Memutus Rantai Sejarah Perpeloncoan Warisan Kolonial

Jika kegiatan Ospek dilihat jangka pendek tujuannya mempersiapkan mahasiswa baru di dalam dunia perkuliahan yang tentunya berbeda jauh dengan kehidupan saat masih belajar di sekolah. Sedangkan untuk jangka panjang, mempersiapkan mahasiswa dalam kehidupan setelah perkuliahan.

2019-09-02 14:08:12
Ospek Universitas Khairun
Advertisement

Dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan setelah dugaan terjadi perundungan atau bullying di Universitas Khairun, Ternate, Maluku Utara. Peristiwa itu diduga terjadi saat kegiatan orientasi sekolah dan pengenalan kampus (Ospek).

Dalam video yang beredar luas, sejumlah mahasiswa baru disuruh untuk meminum air ludah yang sudah ditampung di dalam gelas. Para mahasiswa baru itu juga diminta berjalan jongkok saat masuk kampus.

Pihak Universitas Khairun telah meminta maaf terkait kejadian di Fakultas Perikanan dan Kelautan tersebut. Empat mahasiswa berinisial AE, FSMA, LM dan NSF bahkan telah diberi sanksi masing-masing akibat peristiwa tersebut.

Advertisement

Pelaksanaan Ospek berujung terjadinya perpeloncoan tercatat bukan hanya sekali mencoreng dunia pendidikan tanah air. Beberapa kejadian Ospek perpeloncoan ini berujung memakan korban jiwa.

Seperti kasus dialami mahasiswa Universitas Hasanuddin jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudiro Husodo periode 2011 silam. Korban bernama Awaluddin (19), menderita sakit usai mengikuti ospek di kampusnya selama dua hari berturut-turut.

Kemenristek Dikti sebenarnya sudah membuat pedoman agar ospek dilakukan sesuai aturan. Salah satu yang tertulis, yakni asas demokratis berarti kegiatan dilakukan berdasarkan kesetaraan dengan menghormati hak dan kewajiban setiap pihak yang terlibat.

Advertisement

Asas humanis yaitu PKKMB dilakukan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, prinsip persaudaraan, dan anti kekerasan. Dengan begitu diharapkan tidak ada lagi ospek yang melampaui batas.

Pengamat Pendidikan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh (STAI Bani Saleh) Bekasi, Andriyansyah mengatakan, Ospek harus tetap dilaksanakan guna pengenalan suasana kampus maupun akademik. Hal ini diatur Peraturan Menteri Nomor 33 Tahun 2000 Tentang Peraturan Kegiatan Mahasiswa Baru.

Aturan itu menjelaskan bahwa orientasi mahasiswa baru hanya boleh dilaksanakan dalam kerangka pengenalan akademik yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi dan surat edaran DIKTI Nomor 3120 tahun 2007 tentang penegasan kembali pelarangan perploncoan pada orientasi mahasiswa baru. Serta pengawasan secara ketat baik dari pembina kemahasiswaan maupun pimpinan kampus ketika pelaksanaan ospek berjalan.

"Untuk itu sebenarnya ospek itu perlu diadakan, karena apabila dilihat dari sisi hakikat ospek itu sendiri sebenarnya berisi informasi penting bagi mahasiswa baru," kata Andri saat dihubungi merdeka.com, Senin (2/9).

Dari sejumlah literatur menyebutkan asal mula Ospek itu muncul. Salah satunya menyebutkan Ospek ini sudah ada sejak Zaman Kolonial dulu, tepatnya di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kemudian terus berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Sekarang STOVIA dan GHS menjadi FKUI Salemba.

Pada masa itu setiap awal masuk sekolah siswa mendapatkan penjelasan terkait kondisi lingkungan sekolah maupun teknik-teknik mengembangkan kreativitas. Senior berperan penting dalam program ini.

Pada masanya, MOS dikenal dengan sebutan ontgroening atau 'membuat tidak hijau lagi'. Program ini bertujuan untuk mendewasakan siswa baru. Setelah Indonesia menyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945, program tersebut masih berlanjut.

MOS mulai diperkenalkan dengan berbagai bentuk. Ada yang mewajibkan kepada siswa baru membawa aksesoris lucu, berdandan aneh, hingga ritual adu fisik yang berujung kematian. Pada tahun 1960-an, program ini masih terus berkembang dan diwariskan secara turun temurun. Bahkan Universitas yang merupakan wadah masyarakat intelektual menerapkan program demikian.

Andri pun mendukung penuh agar pelaksanaan Ospek tetap dilakukan di kampus. Asalkan kegiatan itu masih sesuai prinsip moral dan etika manusia.

Sebab menurut dia, jika kegiatan Ospek dilihat jangka pendek tujuannya mempersiapkan mahasiswa baru di dalam dunia perkuliahan yang tentunya berbeda jauh dengan kehidupan saat masih belajar di sekolah. Sedangkan untuk jangka panjang, mempersiapkan mahasiswa dalam kehidupan setelah perkuliahan.

"Jadi jika ada bullying seperti kasus Universitas Khairun ini masuk pada kategori perploncoan yang sangat fatal untuk diimplementasikan dalam kegiatan ospek, lebih-lebih lagi meminum ludah," ucapnya.

Baca juga:
Berkaca dari Ospek di Universitas Khairun, DPR Usul Dibentuk Unit Pelaporan Bullying
DPR Nilai Ospek di Universitas Khairun Masuk Kategori Bullying
Kasus-Kasus Ospek yang Mencoreng Dunia Pendidikan Indonesia
Fakta-Fakta Ospek Minum Air Ludah dan Jalan Jongkok di Universitas Khairun
'Seharusnya Ospek Dilakukan dengan Ketegasan bukan Kekerasan'
Sosiolog Sebut Ospek Bukan Ajang Balas Dendam dan Penindasan
Ini Panduan Ospek dari Kemenristekdikti Agar Tidak Terjadi Perpeloncoan

(mdk/gil)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.