Mataram Hasilkan 200 Ton Sampah Harian, Menteri Lingkungan Hidup Dorong Perbaikan Pengelolaan Sampah Mataram
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mendesak Pemkot Mataram tingkatkan pengelolaan sampah Mataram. Dengan produksi 200 ton sampah harian, bagaimana kota ini akan mengatasinya?
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, secara tegas mendesak Pemerintah Kota Mataram untuk meningkatkan upaya pengelolaan sampah guna mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Seruan ini disampaikan saat kunjungan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Kunjungan tersebut dilakukan pada hari Sabtu, di mana Menteri Nurofiq menyoroti fakta bahwa Kota Mataram memproduksi sekitar 200 ton sampah setiap hari. Angka ini kontras dengan kapasitas pengolahan yang baru mencapai 40 ton per hari, meskipun proyek perluasan kapasitas hingga 120 ton sedang berjalan.
Situasi ini menggarisbawahi urgensi perbaikan sistematis dalam penanganan sampah di ibu kota provinsi tersebut. Pemerintah pusat menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan penuh dalam mengatasi masalah sampah yang masih ada, demi mencapai cakupan pengelolaan sampah yang komprehensif di Mataram secara bertahap.
Tantangan dan Kapasitas Pengelolaan Sampah Mataram
Kota Mataram menghadapi tantangan signifikan dalam pengelolaan sampah, dengan volume produksi harian mencapai 200 ton. Angka ini menunjukkan beban besar bagi infrastruktur dan sistem yang ada, yang saat ini baru mampu mengolah 40 ton sampah per hari.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan bahwa situasi ini "masih perlu ditingkatkan." Kesenjangan antara produksi dan kapasitas pengolahan sampah Mataram menjadi fokus utama yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Meskipun ada proyek perluasan kapasitas TPST Sandubaya hingga 120 ton, hal ini masih belum mencakup seluruh volume sampah yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif untuk menutup defisit tersebut dan memastikan semua sampah terkelola dengan baik.
Peran TPST Sandubaya dan Harapan Pemerintah Pusat
TPST Sandubaya di Mataram telah beroperasi dengan baik, mampu mengolah 40 ton sampah per hari, terdiri dari 18 ton sampah organik dan 28 ton sampah plastik. Fasilitas ini mengolah sampah menjadi kompos, pakan maggot, dan paving block, dengan hanya menyisakan enam ton residu per hari.
Menteri Nurofiq mengingatkan pemerintah daerah untuk terus menjaga kinerja fasilitas ini dalam menangani sampah dari rumah tangga, bisnis, dan sampah kiriman dari daerah lain melalui sungai. "Saya berharap pemerintah kota dapat terus menjaga fasilitas ini untuk memastikan layanan pengelolaan sampah yang efektif," ujarnya.
Pembangunan TPST Sandubaya seluas 5.300 meter persegi ini dimulai pada Oktober 2023 dengan dana sebesar Rp19,9 miliar (sekitar US$1,1 juta) dari pemerintah pusat. Dukungan ini menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk membantu Mataram mencapai pengelolaan sampah yang optimal.
Pentingnya Partisipasi Masyarakat dan Prinsip 3R
Selain peningkatan infrastruktur, Menteri Lingkungan Hidup juga menyoroti pentingnya kesadaran dan partisipasi publik dalam mengurangi timbulan sampah. Nurofiq menekankan penerapan prinsip 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya dapat secara signifikan mengurangi beban TPST dan meningkatkan efisiensi proses daur ulang. Edukasi dan kampanye berkelanjutan diperlukan untuk menumbuhkan kebiasaan baik ini di kalangan warga Mataram.
Dengan sinergi antara pemerintah, fasilitas pengolahan, dan masyarakat, diharapkan pengelolaan sampah Mataram dapat mencapai target yang lebih baik. Upaya kolektif ini krusial untuk menciptakan lingkungan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh penduduk.
Sumber: AntaraNews