LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Masyarakat Indonesia masih diskriminasi pada kaum gay

Diterima atau tidaknya gay itu tergantung bagaimana budaya dan adat yang ada di negara tersebut.

2015-11-21 08:13:00
Homoseksual
Advertisement

Pria sesuka jenis (gay) memang kerap mendapatkan perilaku diskriminasi oleh sejumlah masyarakat, khususnya di Indonesia. Tak jarang dari mereka yang memilih untuk membentuk komunitas sendiri atau pergi ke negara barat.

Sosiolog Musni Umar mengungkapkan, diterima atau tidaknya gay itu tergantung bagaimana budaya dan adat yang ada di negara tersebut.

"Kalau kita bicara masalah gay, gay ini sangat ditentukan di negara mana kita berada. Kalau di barat, memang mereka itu Hak Asasi Manusia di sana sangat baik. Di barat mereka berusaha memperlakukan warganya dengan perlakuan sama, termasuk gay. Di sana tak ada lagi batasan moral, agama, suku dan apapun itu. Semua diperlakukan sama. Berbeda dengan Indonesia yang banyak aturannya," kata Musni saat dihubungi merdeka.com, Kamis (19/11) lalu.

Di Indonesia, Musni menjelaskan, ada beberapa peraturan misal adanya ajaran agama yang menyatakan semua orang sama, namun menikah itu mempunyai pasangan. Pria sudah seharusnya berpasangan dengan wanita. Peraturan itulah yang ditanam pada masyarakat Indonesia.

"Masyarakat Indonesia memang tak bisa dipungkiri menolak adanya kaum gay. Mereka menganggap gay itu merupakan pelanggaran yang menjadi kebiasaan. Maka menurut mereka penyakit itu harus dibasmi. Kita tak perlu menyamakan kebiasaan Indonesia dengan negara lain (mengenai gay). Mereka mempertanyakan, kenapa harus disamakan perlakuan kepada gay seperti negara barat," tuturnya.

Lanjut Musni, dengan pemikiran seperti itu, tidak mudah bagi masyarakat Indonesia mengakui keberadaan gay. "Masyarakat kita memang belum bisa menghargai beberapa keseragaman, termasuk gay," tutupnya.

Sementara itu, YS (25), salah seorang gay ini menjelaskan, untuk para homoseksual di Indonesia, cukup menjadi diri masing-masing dan jangan pernah menjadi orang lain agar tak didiskriminasi di negara sendiri.

"Kalau sudah siap terbuka, terbuka lah. Banyak orang yang welcome banget dengan kita, misal keluarga dan teman. Gay itu butuh sharing, kita bisa saling berbagi. Saling terbuka agar tak ada diskriminasi kepada kita," ucap YS saat dihubungi merdeka.com.

Sedangkan untuk masyarakat umum, YS berharap jika memang tak suka dengan hadirnya gay, kiranya diberikan pendidikan dan arahan. Jangan malah memandang sebelah mata. "Karena bantuan masyarakat sesungguhnya akan menghasilkan pengaruh yang luar biasa," tutupnya.(mdk/eko)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.