Masih Ada Satwa Diduga Stres, Kunjungan Publik ke Bandung Zoo Tuai Kritik
Kritik disampaikan oleh Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyusul kunjungan pihaknya ke Bandung Zoo pada Rabu lalu.
Pembukaan kembali Bandung Zoo sebagai ruang terbuka hijau, menuai beragam komentar. Salah satunya datang dari Geopix, salah satu organisasi yang berfokus pada isu lingkungan dan konservasi satwa.
Kritik disampaikan oleh Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyusul kunjungan pihaknya ke Bandung Zoo pada Rabu lalu. Pada kunjungan tersebut, Annisa mengungkap bahwa ditemukan sejumlah satwa dengan kondisi memprihatinkan, termasuk mengalami stres.
Kondisi tersebut diduga terjadi karena pengelolaan yang kurang layak. Ini tak lepas dari masalah hukum pada internal pengelola.
Dengan keadaan itu, ia mendesak pemerintah agar tak buru-buru kembali dibuka untuk publik, hingga standar pengelolaan benar-benar layak.
"Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa membuka kembali kebun binatang tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak," ucapnya dalam keterangan tertulis, diterima Senin (19/1).
Menurut dia kondisi pengelolaan yang layak, tak semata terkait pemenuhan pakan yang telah disokong oleh Kementerian Kehutanan. Tetapi juga, aspek-aspek lainnya yang mendukung kesejahteraan hewan secara utuh.
Temuan Satwa Memprihatinkan
Adapun sejumlah temuan kondisi memprihatinkan itu ditemukan pada Orangutan, Gajah, dan Monyet Hitam. Hal itu diungkapkan oleh Senior Biologist dan Wildlife Curator - Center for Orangutan Protection, Indira Nurul Qomariah.
"Pada primata termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh adanya penyakit kulit, malnutrisi, atau stres (akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif) yang memicu perilaku seperti overgrooming," kata dia.
Indira menerangkan, kebotakan juga dapat disebabkan oleh penyakit genetik seperti alopecia. Untuk memastikan itu, perlu dilakukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebotakan tersebut.
Selain primaya ia juga menyorot kondisi gajah. Menurutnya, ada gajah di Bandung Zoo yang menunjukkan gejala stress yang serius dari perilakunya.
"Gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying (gerakan berulang tanpa tujuan), yang termasuk indikator stres. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, antara lain kurangnya pengayaan (enrichment) atau kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan gajah lainnya" jelas dia.
Berpotensi Memperburuk Kondisi Satwa
Dengan kondisi yang demikian, Geopix berpandangan kunjungan publik dapat berpotensi memperburuk kondisi satwa, dan di sisi lain mencerminkan kegagalan tata kelola konservasi ex-situ di Indonesia.
Untuk itu, Geopix mendesak pengelola Bandung Zoo bersama pemerintah untuk mengambil sejumlah langkah penting sebelum kebun binatang tersebut kembali dibuka untuk umum. Langkah-langkah itu meliputi evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan kelayakan fasilitas kandang, serta pelaksanaan audit independen oleh otoritas dan tenaga ahli yang kompeten di bidang kesejahteraan satwa.
Selain itu, Geopix menekankan pentingnya transparansi kepada publik terkait kondisi kesehatan dan perawatan satwa, serta meminta agar pembukaan kembali Bandung Zoo ditunda hingga seluruh standar kesejahteraan satwa benar-benar terpenuhi.
Kata Karyawan Bandung Zoo
Terpisah, Juru Bicara Karyawan Bandung Zoo, Sulhan Syafi'i mengeklaim, perawatan satwa senantiasa diupayakan dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun mental.
"Kita lakukan rapat, treatment yang terbaik untuk satwa-satwa yang kita miliki, salah satunya seperti memberikan mainan," katanya, Senin (19/1).
Ia menyebut, kondisi orangutan dan gajah yang diduga mengalami stres telah ditindaklanjuti. Tindakan itu dilakukan oleh tim dokter yang memantau kesehatan satwa. "Kita lakukan kegiatan-kegiatan yang memberikan enrichment-enrichment untuk pola makan, mengajak mereka jalan, itu kita lakukan," ujarnya.
Soal pemenuhan pakan, ia menegaskan seluruh kebutuhan satwa hingga kini masih sepenuhnya ditanggung oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Ia juga menekankan komitmen pihaknya untuk tetap memastikan kesejahteraan satwa terjaga, meski Bandung Zoo tengah dilanda konflik internal yang kompleks dan berlarut.
Masa Depan Bandung Zoo
Sementara itu, diketahui Pemerintah Kota Bandung, bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pusat, tengah melakukan pembahasan terkait masa depan Bandung Zoo. Hasilnya diwacanakan akan keluar dalam waktu dua bulan.
Ada tiga kemungkinan terkait nasib Bandung Zoo ke depan yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan belum lama ini. Itu antara lain, yaitu mempertahankan kondisi seperti sekarang, mengembangkan kawasan menjadi taman margasatwa dengan jumlah satwa lebih terbatas disertai penambahan ruang terbuka hijau, lalu mengalihfungsikan kawasan sepenuhnya menjadi ruang terbuka hijau (RTH).
Terkait ini, karyawan Bandung Zoo pun belum mau bicara banyak. Dari tiga kemungkinan tersebut, para pekerja menegaskan kecenderungan untuk mempertahankan Bandung Zoo tetap berfungsi sebagai kebun binatang seperti sekarang.