Lapas Gorontalo Bekali 80 WBP dengan Pelatihan Keterampilan Produktif untuk Kemandirian
80 WBP Lapas Gorontalo ikuti program pelatihan keterampilan produktif, membekali mereka dengan keahlian berharga untuk masa depan mandiri setelah bebas.
Lapas Kelas II A Gorontalo meluncurkan program pembinaan kemandirian yang inovatif bagi warga binaannya. Sebanyak 80 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kini aktif mengikuti pelatihan keterampilan produktif. Inisiatif ini bertujuan membekali mereka dengan keahlian yang relevan untuk menopang kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Lapas Gorontalo dan Loka Latihan Kerja (LLK) UKM, didukung oleh Dinas Kelautan Perikanan serta Dinas Pertanian Kota Gorontalo. Pelatihan ini dirancang untuk memberikan hak setiap WBP atas pembinaan yang komprehensif. Pelaksanaannya melibatkan instruktur ahli di bidangnya masing-masing.
Kepala Lapas Kelas II A Gorontalo, Sulistyo Wibowo, menegaskan pentingnya program ini sebagai bagian dari hak WBP. Pelatihan ini menjadi bekal berharga bagi WBP agar dapat memulai usaha atau bekerja secara mandiri. Hal ini sejalan dengan visi untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna pasca-pembebasan.
Fokus Pembinaan Kemandirian di Lapas
Lapas Kelas II A Gorontalo secara konsisten menjalankan amanat untuk memberikan pembinaan kepada seluruh warga binaannya. Fokus utama pembinaan kali ini adalah pada aspek kemandirian, yang dianggap krusial untuk reintegrasi sosial. Program pelatihan keterampilan WBP Lapas Gorontalo ini merupakan wujud nyata komitmen tersebut.
Sulistyo Wibowo menjelaskan bahwa pembinaan kemandirian menjadi prioritas. "Nah untuk program yang dijalankan saat ini kami fokus kepada kegiatan pembinaan kemandirian. Di sini Lapas wajib memberikan pelatihan keterampilan, sebagai bekal mereka setelah bebas," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya persiapan WBP menghadapi dunia luar.
Pembekalan keterampilan ini bukan hanya sekadar kegiatan pengisi waktu. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang. Diharapkan, dengan memiliki keahlian, WBP dapat mengurangi potensi residivisme dan membangun masa depan yang lebih baik.
Ragam Pelatihan dan Dukungan Instruktur Ahli
Program pelatihan keterampilan WBP Lapas Gorontalo ini menawarkan beragam jenis keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar. Pelatihan ini mencakup bidang-bidang yang praktis dan memiliki potensi ekonomi tinggi. Kerjasama dengan berbagai dinas terkait memastikan kualitas materi yang diajarkan.
Instruktur ahli dari Loka Latihan Kerja (LLK) UKM, Dinas Kelautan Perikanan, dan Dinas Pertanian Kota Gorontalo turut serta dalam membimbing para WBP. Kehadiran mereka menjamin bahwa setiap peserta mendapatkan pengajaran yang profesional. Jenis-jenis pelatihan produktif yang diberikan meliputi:
- Membuat kue
- Menjahit
- Pengelasan
- Pertanian
Sulistyo Wibowo menambahkan bahwa inisiatif ini selaras dengan program kementerian. "Hal ini sesuai dengan Astacita dan program akselerasi dari Kementerian, yaitu memberikan pelatihan keterampilan bagi narapidana," kata dia. Hal ini menunjukkan bahwa program ini memiliki landasan kebijakan yang kuat.
Hasil dari beberapa pelatihan, seperti produk pengelasan berupa rak buku dan meja, bahkan sudah memiliki jalur pemasaran. Produk-produk tersebut dapat dipasarkan melalui e-katalog dan dipamerkan di galeri. Ini membuka peluang bagi WBP untuk melihat langsung potensi komersial dari keterampilan yang mereka pelajari.
Harapan dan Manfaat Jangka Panjang bagi WBP
Program pelatihan keterampilan WBP Lapas Gorontalo ini disambut antusias oleh para peserta. Mereka menyadari bahwa kesempatan ini adalah modal berharga untuk kehidupan baru. Antusiasme ini terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam setiap sesi pelatihan.
Para WBP mengungkapkan bahwa program ini bukan hanya sekadar mengisi waktu selama masa pidana. Lebih dari itu, pelatihan ini memberikan harapan dan jalan keluar. Mereka melihatnya sebagai bekal untuk memulai usaha sendiri atau mendapatkan pekerjaan.
Dengan keterampilan yang diperoleh, diharapkan WBP dapat lebih mudah beradaptasi di masyarakat. Kemandirian ekonomi menjadi kunci untuk menghindari stigma negatif dan membangun kehidupan yang lebih bermakna. Program ini menjadi jembatan bagi mereka menuju masa depan yang lebih cerah.
Sumber: AntaraNews