Kisah Suriandi, penjual koran difabel yang ditinggal calon istri
Cacat itu dialami Suriandi akibat kecelakaan pada tahun 1997.
Asap hitam yang menyelubungi Kota Palangkaraya tak menyurutkan tekad Suriandi (57) untuk menjalankan aktivitasnya sebagai penjual koran keliling. Dengan kaki yang hanya sisa sebelah, lelaki tak beristri itu penuh semangat menjajakan koran-korannya melalui sebuah gerobak dorong.
"Aku enggak bisa pakai masker. Aku malahan sesak napas kalau pakai masker," ujarnya sembari menunjuk masker yang dikenakan reporter (merdeka.com) di depan RSU Dr Doris Sylvanus, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/10).
Suriandi mengalami kecelakaan pada tahun 1997. Ketika itu ia berumur 35 tahun. Saban hari ia bekerja di sebuah perusahaan kayu untuk mengumpulkan dana buat pernikahan dengan calonnya yang ia cintai.
Namun nasib berkata lain, sebuah kayu menimpa kaki kirinya. Kaki kiri itu pun diamputasi.
"Kaki kiri patah dan diamputasi," tuturnya.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Melihat Suriandi cacat karena kehilangan kaki kirinya, sang calon pun lantas meninggalkan ia dengan luka yang dalam. Sejak saat itu ia memilih hidup sendiri hingga sekarang.
"Kami awalnya mau nikah. Aku lalu cari dana buat nikah tapi ketika aku cacat, dia pun meninggalkanku," cerita lelaki yang memeluk keyakinan Kristen ini.
Sejak ditinggal pergi oleh sang calon, kenangan indahnya masa lalu senantiasa menghantui hari-hari Suriandi. Pernah ia mengelilingi Kota Palangkaraya dengan berjalan kaki hanya untuk mengusir bayangan dan kenangan bersama sang calon istri.
"Aku tahu dia sudah milik orang lain dan aku sudah ikhlas. Tapi bagaiamana pun juga aku tetap ingat dirinya," ujar dia.
Rasa pahitnya hidup ditinggalkan telah ia lalui berhari-hari. Lantas ia pun bertanya, kenapa orang cacat selalu dipandang sebelah mata.
"Saya enggak depresi waktu kecelakan tapi waktu calon saya enggak mau itu yang buat saya ingat sampai sekarang. Kok kenapa ya mereka enggak mau dengan kami orang cacat. Emang kami enggak bisa ya?" tuturnya.
Cacat tubuh dan ditinggalkan sang calon istri bukan halangan bagi Suriandi untuk melanjutkan hidupnya. Hidup sebatang kara ia jalani tanpa beban. Ia menggantungkan nasibnya pada kerja yang ia lakoni sekarang. Sehari-hari, dikurangi biaya makan, ia mengantongi uang Rp 50 ribu dari hasil penjualan korannya.
Kerja itu ia lakoni setiap hari. Ketika sang jago berkokok pukul 03.00 WITA, Suriandi pun menyiapkan diri lalu bergegas menuju ke tempat agen koran.
"Pukul 04.00 WITA aku sudah di agen koran. Dari sana aku menuju ke RS ini. Aku kan bukan cacat bawaan, jadi sebelum cacat, aku sudah tahu bagaimana mengurus diri," tukas lelaki yang pernah mengikuti workshop bagi kaum difabel tahun 2002 di Solo, Jawa Tengah ini.
Ketika berbicara tentang asap yang kini melanda Kota Palangkaraya, Suriandi mengatakan jika hal itu tak lepas dari Pemprov Palangkaraya sekarang. Dibandingkan tahun lalu, kata dia, kabut asap tidaklah sehebat tahun ini.
"Sebenarnya pemerintah sekarang lambat tangani. Kalau dari awal mereka sudah tangani api sewaktu masih kecil. Kami berharap, kalau ada kebakaran tahun depan jangan meluas seperti ini. Tahun lalu ada persiapan anggaran dan helikopter," pungkas dia.
Baca juga:
Demi bocah penderita kanker, kota ini rayakan Natal di Oktober
Kisah haru nenek 78 tahun jualan permen demi kebutuhan hidup
Pria ini memodifikasi kursi roda agar selalu dekat dengan istrinya
Ini sosok Basaria Panjaitan polwan pertama berpangkat irjen
Pengabdian suster rawat bayi-bayi prematur bisa bikin Anda menangis
Momen haru nenek Korsel bertemu suami di Korut usai 65 tahun pisah
Kisah pengamen ABG di Pasar Minggu yang kuasai 7 bahasa asing