Kisah Raditya, pasien ISPA ingin cepat pulang biar bisa main bola
Raditya (11) adalah penderita ISPA yang kini tengah mendapat perawatan di RSU Dr. Doris Silvanus, Kota Palangakaraya.
"Aku mau pulang, Aku mau main bola," ujar Raditya dengan lesu kepada ayahnya.
Raditya (11) adalah penderita ISPA yang kini tengah mendapat perawatan di RSU Dr. Doris Silvanus, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Tangan-tangan kanan bocah Kelas 6 SD Langakai I, Kec. Pahandut, Kota Palangkaraya ini tampak dibaluti lakban bekas infus. Terbaring lemah di atas dipan, Raditya sesekali melihat keluar jendela. Kerinduan untuk pulang ke rumah dan kembali bersekolah nampak terlihat di sinar matanya.
Dia sudah menjalani perawatan sejak seminggu yang lalu. Awalnya, sang ayah, Rudianto (45) melihat napas anaknya terus memburuk. Dia berkali-kali melihat anaknya mengalami sesak napas. Tak mau kondisi anaknya bertambah parah, ia pun membawa Raditya ke sebuah klinik di Kota Palangkaraya.
"Saya dan istri lalu bawa dia (Raditya) ke sebuah klinik. Dari sana mereka minta untuk dirujuk ke sini," ujar Rudianto kepada merdeka.com di ruang rawat inap Flamboyan, RSU Dr. Doris Silvanus, Selasa (27/10).
Ketika Raditya mulai dirawat, keluarga yang tinggal di Geobos 8 Gang II Sejati Raya II Kota Palangkaraya ini mulai khawatir dengan biaya pengobatan. Sang ayah yang kerja serabutan tak mempunyai simpanan. Ia awalnya menyesal karena lalai tak mengurus BPSJ. Tapi melihat kondisi anaknya yang terus memburuk, ia pun berdoa agar diberi jalan.
"Kami tak mempunyai simpanan sama sekali. BPJS kami belum urus. Tapi beruntung pihak RS beri kami kemudahan. Anak kami dirawat baik," cerita Rudianto.
RSU Dr. Doris Silvanus mengobati secara gratis semua pasien ISPA. Sesuai instruksi Pemprov Kalimantan Tengah dan Menteri Kesehatan, semua penderita ISPA mendapat perawatan secara intensif, baik yang dirawat inap maupun mendapat perawatan jalan. Pun pihak RSU memperlakukan pasien ISPA tanpa BPJS tidak bedanya dengan pasien ber-BPSJ.
Setelah dirawat beberapa hari, kondisi Raditya kini sudah mulai membaik. Nampak senyum sesekali keluar dari bibirnya ketika sang dokter yang merawat datang mengecek kondisinya.
"Raditya udah sehat ya. Ayo sebutkan apa pantangannya kalau pulang ke rumah?" tanya dokter perempuan sembari menaruh stetoskop di dada bocah itu.
"Tidak boleh minum air es, tidak boleh makan berminyak dan selalu pakai masker jika keluar rumah," jawab Raditya lancar.
Menutur dokter itu, kondisi Raditya sudah membaik dan diperbolehkan pulang sore ini. "Dia sudah ada perubahan. Sudah mulai membaik. Kira-kira sudah keluar hari ini," ujar sang dokter usai memeriksa kondisi bocah itu.
Dihubungi terpisah, Kabid Diklit Pengembangan SDM dan Humas RSU Dr. Doris Sylvanus, dr. Teo mengatakan, jumlah pasien ISPA mulai meningkat menyusul kabut asap selama seminggu terakhir melanda Kota Palangkaraya.
Selama bulan November, kata dia, jumlah pasien ISPA rawat inap dari umur 28 hari hingga usia 65 tercatat 21 orang. Sementara itu, pasien yang mendapat perawatan jalan berjumlah 206 dengan kategori umur yang sama.
"Yang paling rentan kena ISPA itu anak kecil, ibu hamil dan usia lanjut. Mereka hampir mendominasi sebagai pasien yang dirawat di sini," terang dia.
Baca juga:
Seribu lebih masker gratis dibagikan buat warga di Banda Aceh
Serahkan tugas asap ke Luhut bukan ke Wapres, Jokowi disindir PDIP
Frustasi kebakaran hutan, pemerintah pasrah berharap pada hujan
Agus Hermanto: Pansus Asap bisa bantu pemerintah dan penegak hukum
Hutan rakyat di Bukit Menoreh terbakar, kerugian puluhan juta