LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kisah Imam Muslim cium kaki gurunya, Imam Bukhari

Riwayat ini berasal dari Ahmad Ibnu Hamdun Al-Qashar bahwa Imam Muslim pernah mendatangi Imam Al-Bukhari untuk bertanya tentang hadis mu'allal.

2017-06-18 18:00:00
Ramadan 2017
Advertisement

Penghormatan terhadap guru sangat dianjurkan di dalam Islam. Penghormatan ini dapat diekpresikan dengan berbagai macam cara. Di antaranya, mencium tangan guru, membawa tas dan kitab mereka ke dalam kelas, memapah dan membantu mereka berjalan.

Anjuran untuk menghormati guru ini sudah lama diajarkan oleh para ulama terdahulu. Mereka tidak segan berebut untuk mencium tangan guru, ustaz, ataupun kiai yang sudah mengajarkan ilmu kepada mereka.

Bahkan, Imam Muslim, seorang ahli hadis yang paling terkenal di dunia Islam, pada saat bertemu gurunya Imam Al-Bukhari, tidak segan untuk mencium kening dan kakinya.

Advertisement

Ini tentu bukan suatu penyelewangan dan penyimpangan. Andaikan tidak benar dan dilarang di dalam Islam, tentu Imam Muslim sebagai ahli hadits tidak akan melakukannya dan Imam Al-Bukhari pasti sudah melarangnya.

Syekh Nuruddin 'Itr dalam Lamahat Mujazah fi Ushuli 'Ilalil Hadits mengutip sebuah riwayat tentang adab Imam Muslim saat bertemu gurunya.

Riwayat ini berasal dari Ahmad Ibnu Hamdun Al-Qashar bahwa Imam Muslim pernah mendatangi Imam Al-Bukhari untuk bertanya tentang hadis mu'allal. Ketika bertemu, beliau langsung mencium kening gurunya dan berkata.

Advertisement

"Biarkan aku mencium dua kakimu wahai mahaguru, pemuka ahli hadis, dan pakar dalam kajian 'ilal hadits."

Imam Muslim yang sudah sangat tersohor pada masanya tidak enggan untuk menghormati dan bersikap rendah diri di hadapan gurunya. Ia tidak sekadar cium tangan, tetapi juga mencium kaki gurunya.

Dengan demikian, tradisi 'ngalap berkah' bukanlah sesuatu yang baru dan berasal dari pengaruh tradisi lokal sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Ini merupakan tradisi yang diwariskan oleh ulama turun temurun. Yang melakukannya tidak hanya ulama di Nusantara, tetapi juga dilakukan oleh ulama Timur-Tengah, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.

Baca juga:
Kisah pemimpin sederhana yang gajinya habis diberi ke fakir miskin
Rasulullah: Tak halal bagi muslim mendiamkan saudaranya 3 hari lebih
Allah SWT murka pada anak yang tak memuliakan orangtuanya
Tak salat tanpa sebab akan dikumpulkan bersama Firaun di hari Kiamat
Ini keistimewaan Jumat dibanding hari lain

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.