Kisah Fikri, korban terbaru ospek di Malang
"Korban jatuh dan terdengar suara dengkuran. Sempat juga dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong."
Kematian Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa baru di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang jurusan Planologi mencuat. Ramainya peristiwa ini berawal dari adanya satu dari dua foto yang beredar terkait ospek oleh pembina kepada mahasiswa baru di Goa China, Malang.
Meski salah satu foto meragukan tentang peristiwa tersebut, namun kasus kematian Fikri ramai dibicarakan di dunia maya. Banyak pihak mempertanyakan kenapa sampai saat ini pihak kampus, para mahasiswa baru yang mengikuti orientasi (ospek), pembina ospek sampai pihak orangtua korban belum angkat bicara.
Tidak hanya kasus kematian Fikri, beberapa pembahasan juga merembet ke masalah kerasnya masa orientasi kepada mahasiswa baru yang dilakukan oleh pembina yang rumornya menjurus tindak kekerasan fisik dan pelecehan seksual.
Polisi sendiri telah memeriksa empat mahasiswa ITN Malang, yang diduga mengetahui persis bagaimana kronologi tewasnya Fikri. Keempat mahasiswa itu dari kalangan peserta dan panitia Kemah Bakti Desa (KBD) di kawasan Goa China, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
"Ada lima orang saksi yang telah diperiksa petugas dari Polres Malang, yaitu rekan-rekannya yang memberikan pertolongan dan dari bidan puskesmas," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (12/12).
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Awi Setiyono membantah kasus tewasnya Fikri Dolasmantya Surya, terkait dengan acara ospek yang digelar di kawasan Goa China, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 9 hingga 12 Oktober lalu. Dia juga membantah beredarnya foto kekerasan yang diduga saat ospek mahasiswa baru itu digelar, yang berhubungan erat dengan kasus kematian mahasiswa asal Mataram tersebut.
"Tidak nyambung. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan ospek ITN dan tewasnya mahasiswa baru, bernama Fikri itu," tegas Awi di Mapolda Jawa Timur, Jumat (13/12).
Awi menjelaskan, hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan pihaknya memperoleh keterangan disaat hari keempat korban pelaksanaan ospek, korban tidak kuat berjalan. Kemudian dibonceng oleh panitia ospek menggunakan motor. Karena jalanan menanjak, korban lalu turun dan mencoba berjalan kaki. Namun karna tidak kuat korban pun terjatuh.
"Korban jatuh dan terdengar suara dengkuran. Sempat juga dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong," kata Awi.
Awi juga menolak soal indikasinya kekerasan atas peristiwa tersebut. Ia menyebutkan, hasil visum yang dilakukan oleh pihak rumah sakit, tidak menemukan adanya bukti kekerasan.
Selanjutnya, dalam membuka penyebab kematian mahasiswa baru itu, polisi telah menyiapkan tim Laboratorium Forensik (Labfor) yang siap diturunkan ke lapangan untuk melakukan proses otopsi jenazah korban. Tapi, pihak kepolisian beralasan belum mendapat izin dari pihak keluarga korban. Padahal, jika keluarga memberikan izin, pihaknya akan segera menurunkan tim Labfor dan Biddokes Polda Jawa Timur untuk melakukan otopsi jasad korban.
"Gelar perkara juga telah beberapa kali dilakukan di Mapolres Malang untuk mengungkap peristiwa tersebut. Sayang polisi masih belum mendapatkan izin dari pihak keluarga korban," ujar Awi.
Awi menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Polres Malang dalam upaya mengumpulkan bukti-bukti lain. "Bahkan, Kapolda Jatim (Irjen Pol Unggung Cahyono), kemarin juga ke sana (Malang) untuk memberikan atensi khusus kepada Kapolres Malang agar secepatnya mengungkap kasus itu," pungkas Awi.
Baca juga:
4 Hukuman unik Ospek di Indonesia
STPDN kini, setelah populer karena perpeloncoan kejam
Mengubah tradisi ospek lebih humanis
Evolusi perpeloncoan, kezaliman yang terlembaga
Asal usul Ospek, benarkah sejak dulu penuh kekerasan?