Kisah 2 sahabat difabel jualan kerupuk tempuh puluhan kilo di Malang
Kisah 2 sahabat difabel jualan kerupuk tempuh puluhan kilo di Malang. Keduanya saling bahu-membahu menjajakan kerupuknya.
Terik jalanan tidak dirasakan oleh dua sahabat sejati, Sugeng Wahyudi dan Agung Widyantono. Keduanya bekerja sama menyusuri panas aspal sepanjang puluhan kilometer demi mendapatkan nafkah hidup.
Sugeng dan Agung memang harus bersama-sama untuk bisa menjajakan kerupuk rasa udangnya. Karena Sugeng sejak kecil mengalami kebutaan, sementara Agung pun mengalami kelumpuhan. Keduanya memadukan kelebihan masing-masing untuk bisa berjalan dan berjualan.
"Mas Sugeng sing boten ketingal blas, nek kulo sanget, tapi kulo mboten saget mlampah. (Mas Sugeng yang tidak bisa melihat sama sekali, kalau saya tidak bisa melihat tapi tidak bisa berjalan)," kata Agung saat ditemui tengah menyusuri jalanan di Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Selasa (7/2).
Sejak usia anak-anak, penglihatan Sugeng sudah mengalami kebutaan. Kendati begitu, anggota tubuhnya yang lain tidak mengalami persoalan.
Sementara Agung mengalami persoalan pada kedua kakinya yang tidak sempurna. Kakinya tidak mampu menahan beban tubuh sehingga hanya bisa duduk di atas kursi roda.
Dua sahabat lumpuh dan buta di malang ©2017 Merdeka.com/darmadi sasongko
Agung pun akhirnya berfungsi sebagai mata bagi Sugeng yang membawanya berkeliling. Agung sekaligus mengendalikan kemudi dari kursi roda yang sudah dimodifikasi. Karena kelengkapan penglihatan Agung juga menjadi kasir yang melayani para pembeli.
Sementara Sugeng mendorong kursi roda yang diduduki dan dikemudikan oleh Agung. Tenaga Agung cukup kuat untuk melangkah ke manapun, hingga kerupuk dagangannya habis terbeli.
Selama berjualan, keduanya hanya membawa satu karung plastik kerupuk yang diletakkan di belakang sandaran kursi roda. Perjalanan dimulai dari tempat tinggalnya di Kawasan Bandulan, Kota Malang menuju arah Kepanjen, Kabupaten Malang.
"Hanya Rp 10 ribu per bungkus," kata Sugeng.
Sugeng mengaku berasal dari Blitar dan Agung dari Semarang, Jawa Tengah. Keduanya bertemu saat belajar di Yayasan Bhakti Luhur Kota Malang. Keduanya sudah satu tahun menjajakan kerupuk bersama.
Baca juga:
Berkah olah ikan jadi abon, IRT di Makassar bisa keliling Indonesia
Kisah haru Eni, ditinggal mati suami & kini sukses usaha abon ikan
Setahun setelah hampir mati dibuang orangtua, bocah ini bisa sekolah
Khofifah dapat surprise film dokumenter 'Mata Hati Djoyokardi'
Bos rongsok, tajir tapi dicap fakir
Modal Rp 5 juta, Ali sehari dapat Rp 300 juta
Perkenalkan Alla, ahli bedah plastik tertua di dunia