LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Ketua DPR Sebut Orang Indonesia Suka yang Natural, Pencitraan Cuma Bikin Capek

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengakui disrupsi dalam komunikasi politik membuat siapapun bisa membangun persepsinya di masyarakat. Namun, jika tidak otentik, mereka hanya capek karena terus berpura-pura.

2018-12-20 19:32:00
Ketua DPR Bambang Soesatyo
Advertisement

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengakui disrupsi dalam komunikasi politik membuat siapapun bisa membangun persepsinya di masyarakat. Namun, jika tidak otentik, mereka hanya capek karena terus berpura-pura.

"Orang Indonesia suka dengan yang natural. Presiden Jokowi kalau posting foto meresmikan proyek sedikit yang merespons. Kalau bersama keluarga atau sama anak-anaknya pasti banyak yang suka," kata Bambang Soesatyo dalam acara Tren 2018: Branding Otentik Tokoh Politik yang digelar konsultan riset dan analisis data, Polaris, di Kaffein, The Foundry, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Bamsoet sapaan akrab Bambang Soesatyo mengaku juga mengalaminya. Setiap kali dia posting peresmian acara di akun Instagram miliknya, responsnya tidak terlalu banyak.

Advertisement

"Tapi begitu saya post soal motor, banyak yang suka," ujar Bamsoet.

Wakorbid Pratama Partai Golkar ini mengaku tak terlalu suka berpura-pura. Misalnya saja soal hobi moge atau mobil mewah. Dia tak mau menyembunyikan hobinya hanya karena ingin dipandang sederhana oleh masyarakat.

"Saya sewajarnya saja, justru dengan saya apa adanya, banyak masyarakat yang mengajak saya berkomunikasi. Dari situlah engagement positif saya tercipta," katanya.

Advertisement

Hal senada diungkapkan CEO Polaris Iman Sjafei. Menurut dia, branding tiap politikus berbeda. Tidak bisa main copy dan paste. Contohnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mencitrakan dirinya marah-marah ke bawahan.

Menurutnya, orang tetap respek karena memang sudah jadi bawaannya untuk ngotot dalam pembenahan pelayanan publik.

"Zumi Zola (Gubernur Jambi) berusaha copy paste Risma. Ternyata malah dia yang mendapat citra negatif. Begitu juga Ridwan Kamil yang kerap menyindir jomblo dalam setiap unggahannya. Kalau ada politikus lain yang meniru bisa aneh. Nggak match," ungkap dia.

Di era disrupsi, Bamsoet mengakui pola komunikasi politikus sudah banyak berubah. Saat ini bahkan peran konsultan politik dalam mengelola percakapan di media sosial tidak terlalu sentral. Sebab, politikus sejatinya bisa mengelolanya sendiri.

"Misalnya seperti yang saya lakukan. Saya melihat apa selera dan kebiasaan orang-orang yang menyukai post saya. Dari situ saya bisa membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri," ungkap dia.

Baginya, modal engagement positif menjadi modal untuk mengelola komunikasi dengan masyarakat yang banyak mengeluhkan kinerja DPR. "Ada tiga isu yang saya hadapi di dewan. Korupsi, hanya sedikit RUU yang disahkan, sama anggota DPR yang malas," katanya.

Baca juga:
Ketua DPR Desak Pemerintah Bersikap Tegas Terkait Muslim Uighur di China
Soal Penahanan Habib Bahar, Bamsoet Bilang 'Lihat Peristiwa Hukumnya'
Jelang Pilpres, Bamsoet Minta Masyarakat Maklumi Anggota DPR Jarang Hadir
Pimpinan MPR, DPR dan DPD Gelar Diskusi Refleksi Akhir Tahun
Pascapembakaran Polsek Ciracas, Ketua DPR Yakin TNI-Polri Tetap Solid

(mdk/ray)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.