Kepala BNPT sebut pendekatan kemanusiaan efektif atasi terorisme
Pendekatan lunak yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan terorisme merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Dalam sejarah penanggulangan terorisme di dunia, pemerintah Indonesia telah membuktikan bahwa pendekatan lunak melalui aspek kemanusiaan dapat meredam aktivitas terorisme.
Pendekatan lunak yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan terorisme merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Dalam sejarah penanggulangan terorisme di dunia, pemerintah Indonesia telah membuktikan bahwa pendekatan lunak melalui aspek kemanusiaan dapat meredam aktivitas terorisme.
Salah satunya, tahun lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengumpulkan lebih dari 100 orang yang terdiri dari mantan narapidana terorisme dan keluarga korban dalam satu forum acara Silaturahmi Kebangsaan untuk saling memaafkan dan menghapus sejarah kelam masa lalu.
"Saling memaafkan antara pelaku dan korban aksi terorisme merupakan salah satu cara pemerintah dalam mengikis dan menyelesaikan isu-isu terorisme dan radikalisme di Indonesia," kata Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius.
Hal ini disampaikan Suhardi di acara The 7th World Peace Forum (WPF) dengan tema 'the Middle Path for the World Civilization' di Jakarta (16/8). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) kerjasama dengan Center for Dialog and Cooperation Among Civilization (CDCC) dan Chengho Multi Culture and Education Trust (CMCET) dari Malaysia.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh agama dari berbagai negara seperti Eropa, Arab, Afrika dan Asia termasuk dari Jepang, Korea dan China. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan peradaban dunia yang damai dan aman serta menghindari benturan peradaban yang diakibatkan oleh perbedaaan keyakinan dan keagamaan.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa mengedepankan pendekatan lunak tentu merupakan proses cukup berat. Namun perpaduan dengan pendekatan budaya lokal mampu mendorong efektifitas pendekatan lunak. Saling memaafkan merupakan budaya bangsa ini yang dapat dijadikan sarana dalam menguatkan hubungan pelaku teror dan korban.
Suhardi menegaskan keberhasilan pemerintah dalam menangani terorisme selama ini karena mampu mengedepankan strategi lunak melalui pendekatan kemanusiaan. Hal ini tentu saja berbeda dengan negara-negara lain yang lebih banyak mengandalkan pendekatan keras melalui penegakan hukum dan militeristik.
"Saling memaafkan dan bertukar kisah kehidupan masing-masing cukup memberikan kesan bagi kedua pihak dan mendapat dukungan dari pemerintah sehingga masalah-masalah yang dihadapi pasca-aksi dapat diselesaikan secara bersama," imbuh Suhardi.
Suhardi menambahkan selain pendekatan budaya lokal, BNPT juga melakukan berbagai langkah pencegahan dengan menggunakan pendekatan pendekatan literasi dan sosialisasi ancaman terorisme. Salah satunya pelibatan semua pihak termasuk anak-anak muda milenial dalam pencegahan paham radikalisme terorisme, terutama di dunia maya.
"BNPT saat ini telah memiliki kurang lebih 700 relawan duta damai di beberapa daerah yang berpartisipasi dalam menyebarkan konten-konten positif dan perdamaian untuk menangkal propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya," pungkas Suhardi.
Baca juga:
Jokowi pastikan jaga stabilitas keamanan dari teror dan radikalisme
Diduga akan aksi di 17 Agustus, terduga teroris ditangkap Densus 88
Diduga terkait teroris, pasutri PNS di Palangkaraya ditangkap Densus 88
Densus 88 gerebek rumah pedagang garam di Padang
Terduga teroris dibekuk di Luwu Timur terlibat bom Polres Poso 2013
Densus kembali tangkap terduga teroris jaringan Santoso di Luwu Timur