Kemenkes Sebut Mayoritas Surveilans Vaksin Covid-19 Alami KIPI Gejala Ringan
"Jadi tidak ada yang berat untuk gejala KIPI, jadi ada laporannya harian ada surveilans untuk laporan KIPI 90 persen kebanyakan hanya nyeri saja, ada demam sedikit tapi tidak ada yang fatal," ujar dia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim tidak ada gangguan kesehatan berat terhadap orang yang disuntik vaksin Covid-19. Mayoritas Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) Covid-19 bergejala ringan.
Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu menyebut gejala ringan yang dimaksud adalah nyeri dan demam biasa.
"Jadi tidak ada yang berat untuk gejala KIPI, jadi ada laporannya harian ada surveilans untuk laporan KIPI 90 persen kebanyakan hanya nyeri saja, ada demam sedikit tapi tidak ada yang fatal," ujar dia di Bandung, Selasa (3/2).
Saat ini Kementerian Kesehatan fokus menuntaskan vaksinasi untuk tenaga kesehatan pada bulan ini. Selanjutkan, sasaran vaksinasi adalah pelayan publik dan sebagian masyarakat yang berpotensi terpapar Covid-19. Jawa Barat dan DKI Jakarta adalah wilayah pertama untuk tahap lanjutan ini.
“Itu ya mulai publik kemudian guru, dosen, pedagang pasar, ojek, PNS, TNI/Polri termasuk pegawai swasta, BUMN, BUMD termasuk perangkat desa,” ia melanjutkan.
Pola vaksinasi yang bersifat jemput bola, atau penyelenggaraan secara massal harus dilakukan karena publik dan profesi rentan sebagai sasaran jumlahnya jauh lebih banyak dari tenaga kesehatan.
“Melangkah ke pada tahap II (vaksinasi) untuk pelayanan publik, masyarakat (jumlahnya) lebih besar, nakes cuma 1,5 juta, tapi pelayan publik itu di catatan kami sementara itu 18 juta lebih,” imbuh dia.
“Tahap II (vaksinassi) pelayanan publik insya Allah kita akan juga tepat waktu harus selesai bulan April, untuk pelayan publik untuk sekitar 18 juta. Harus selesai sekali lagi harus selesai di bulan April, selanjutnya akan ke sasaran sasaran berikut Untuk masyarakat umum,” pungkasnya.
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meminta informasi yang tak benar terkait vaksin bisa berhenti. “Tolong hentikan tidak akan ada manfaatnya. Karena kalau masyarakat tidak mau divaksin, khawatir (pandemi) tidak segera berakhir," ucap dia.
Baca juga:
Menristek Akui Teknologi RI Garap Vaksin Merah Putih Ketinggalan dari Negara Lain
Dinkes DIY Targetkan Vaksinasi Covid-19 Tenaga Kesehatan Rampung Akhir Februari
Kemenkes Sasar Pedagang Pasar Kelompok Pertama Disuntik Vaksin Covid-19 Tahap Kedua
Menristek Jelaskan Progres Vaksin Merah Putih di DPR
Wali Kota Pematangsiantar Gagal Divaksin Covid-19 Tahap Pertama, Ini Penyebabnya