LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Keluarga Harus Bentengi Anak dari Informasi yang Merusak Karakter

Seiring dengan berkembangnya teknologi digital yang belakangan semakin pesat diperlukan ada upaya untuk membentengi anak bangsa terhadap informasi yang dapat merusak karakter. Meski tidak mudah, hal tersebut harus dilakukan dan dapat dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu.

2019-03-12 00:00:00
Ibu dan Anak
Advertisement

Seiring dengan berkembangnya teknologi digital yang belakangan semakin pesat diperlukan ada upaya untuk membentengi anak bangsa terhadap informasi yang dapat merusak karakter. Meski tidak mudah, hal tersebut harus dilakukan dan dapat dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu.

Salah satu contohnya orang tua tak melepas bebas anak mengakses internet tanpa pengawasan.

"Ini sangat berbahaya karena ada titik ketika nanti si anak merasa lebih percaya kepada informasi yang dia baca di internet daripada harus percaya dengan informasi dari guru atau orang tuanya," kata Ketua Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho dalam siaran pers, Senin (11/3).

Advertisement

Menurutnya, ketika anak mulai menggunakan teknologi maka orang tua harus punya pemahaman yang kuat terkait bagaimana mendidik anak menggunakan teknologi digital dengan baik yang biasa disebut digital parenting.

"Ini agar jangan sampai anak terpapar hal-hal yang bisa membahayakan dia secara keamanan atau mengunyah konten-konten negatif seperti ujaran kebencian ataupun juga konten-konten yang terkait dengan radikalisme," katanya.

Di lingkup masyarakat perlu ada gerakan untuk membuat aktivitas 'offline' supaya anak-anak kembali saling bertatap muka, beraktivitas nyata bersama. Sehingga tidak tenggelam dalam dunianya sendiri.

Advertisement

Di lingkup lembaga pendidikan, kata Septiaji, anak-anak perlu diberikan materi terkait literasi digital agar memiliki kemampuan menggunakan berbagai perangkat teknologi digital dengan baik, dan juga literasi media agar tidak gampang menelan mentah-mentah informasi yang diperoleh.

Dia berharap bisa dibuatkan suatu kurikulum yang integratif oleh pemerintah. Kalaupun bukan kurikulum khusus, setidaknya bisa disisipkan atau diintegrasikan dengan kurikulum yang sudah ada.

"Pemerintah punya kurikulum TIK (Teknologi, Informasi dan Komputer), tetapi saya rasa perlu dipertajam dan diperkaya sehingga ketika anak-anak bertemu dengan teknologi digital bisa menjadi lebih produktif, bukan justru sebaliknya," ujarnya.

Menurut Septiaji, anak-anak hendaknya diarahkan menjadi produsen konten, bukan sekadar menjadi konsumen.

"Hal-hal seperti itu yang perlu kita tanamkan dan perlu kita masukkan dalam kurikulum sehingga mereka tidak gagap dan bahkan bisa menangkal konten yang menyesatkan saat menggunakan teknologi digital," katanya.

Baca juga:
Merasa Takut dan Gelisah Tiba-Tiba? Mungkin Kamu Tengah Mengalami Serangan Panik
Mengapa Orang Tua Cenderung Tidur Malam Lebih Sebentar?
Ini Sejumlah Faktor di Tempat Kerja yang Bisa Timbulkan Stres Berat
Stres Berat Paling Banyak Dialami oleh Pekerja dari Sejumlah Sektor Ini
4 Hal yang Menyebabkan Tubuh Terasa Lelah pada Siang Hari
Wanita yang Punya Alis Tebal Ternyata Cenderung Menunjukkan Perilaku Narsistik

(mdk/dan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.