LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kasus penyerangan murid SD murni kriminal, warga jangan terprovokasi

Kasus penyerangan murid SD murni kriminal, warga jangan terprovokasi. MUI dan GMIT meminta umat untuk tak terprovokasi terkait kasus penganiayaan murid SD di Sabu Raijua. Kasus tersebut merupakan murni kriminal.

2016-12-13 16:32:22
penganiayaan
Advertisement

Sejumlah pihak mengimbau warga tidak terprovokasi kasus penyerangan kepada tujuh murid SDN 1 Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketua DPRD Sabu Raijua Paulus Tuka meminta warga untuk tetap tenang dan menyerahkan penanganan kasus ini ke polisi.

"Jangan kita kaitkan masalah (penyerangan) ini dengan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)," kata Tuka kepada Antara, Selasa (13/12).

Ia mengatakan sebagai pimpinan dewan pihaknya mengimbau masyarakat, terutama keluarga korban agar tidak mengaitkannya dengan penyerangan terhadap agama tertentu.

Kepala Bidang Humas Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) AKBP Jules Abraham Abast mengatakan pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Dia mengatakan, polisi juga tetap mendalami kemungkinan ada motif lain di balik kasus penyerangan itu.

"Sementara ini, kami lebih fokus memberikan ketenangan kepada warga agar tidak anarkis dalam menyikapi kasus ini," katanya.

Apalagi, kasus penyerangan ini sudah menyebar ke seluruh wilayah itu dan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, kata Jules Abraham Abast.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan menyerahkan kasus ini kepada aparat penegak hukum untuk ditangani.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT mengimbau seluruh umat beragama tidak terprovokasi insiden penyerangan itu. "Kekerasan tidak diajarkan oleh agama mana pun, apalagi mengatasnamakan agama tertentu. Umat tidak boleh terprovokasi dan menyudutkan agama tertentu," kata Ketua MUI NTT Abdul Kadir Makarim.

Imbauan itu menanggapi konten di Facebook yang sudah mengarah memojokkan agama tertentu, sementara delapan murid kelas V dan kelas VI SD Negeri Sabu Barat sedang menjalani perawatan instensif di Rumah Sakit Panie, karena mengalami luka pada bagian leher.

Abdul Kadir meminta agar jangan ada yang mengaitkan kasus penyerangan tersebut dengan agama tertentu.

MUI juga meminta aparat penegak hukum untuk terus menyampaikan perkembangan penanganan kasus tersebut secara terbuka dan transparan, agar tidak ada saling curiga antarumat beragama di NTT, khususnya Pulau Sabu.

Menurut dia, penanganan kasus ini secara tertutup, justru bisa berakibat buruk karena masyarakat lebih percaya pada media sosial yang terus menyuarakan kasus kekerasan di Sabu dalam versi sendiri.

"MUI berharap, informasi di media sosial seperti Facebook lebih mengedepankan kebersamaan. Tidak boleh bersifat memprovokasi karena bisa mengganggu hubungan bersaudaraan diantara sesama umat di daerah ini," katanya.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) juga meminta agar umat lintas beragama di Sabu Raijua saling menjaga untuk memelihara kerukunan, dan bersama-sama bersuara menuntut keadilan bagi anak-anak yang menjadi korban tindakan kekerasan.

"Selain itu, GMIT mengimbau tokoh-tokoh agama di daerah itu, saling berkoordinasi untuk memastikan bahwa toleransi dan kerukunan antarumat tetap terjaga dan terawat dengan baik," kata Ketua Sinode GMIT Pdt. Merry Kolimon.

"Mari kita menjaga Pulau Sabu dan NTT sebagai rumah bersama. Kita tolak tegas semua tindakan memprovokasi dengan cara tidak membiarkan diri terprovokasi. Kami imbau tokoh-tokoh agama saling berkoordinasi untuk memastikan kita merawat toleransi dan kerukunan," ujarnya.

GMIT juga memohon kepada seluruh jemaat/masyarakat, terutama di Pulau Sabu untuk tidak terprovokasi.

Dalam kaitan dengan penyerangan, Gereja Masehi Injili di Timor mengencam keras penyerangan terhadap anak-anak di lingkungan sekolah pada jam belajar di Seba Pulau Sabu.

"Kami mengecam dengan keras penyerangan terhadap anak-anak di lingkungan sekolah pada jam belajar di Seba Pulau Sabu, NTT. Kekerasan terhadap anak adalah kekerasan terhadap kemanusiaan," kata Merry Kolimon.

Menurut dia, kekerasan terhadap anak adalah kekerasan terhadap kemanusiaan dan tidak bisa dibenarkan.

Dalam hubungan dengan itu, GMIT meminta pemerintah dan pihak keamanan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh mengungkap pelaku tindakan penyerangan, dan motivasinya.

Baca juga:
Anak-anak SD di Kabupaten Sabu, NTT diserang pria bawa sajam
Diserang pria bersajam, 7 anak SD di Sabu Raijua dibawa ke Puskesmas
Bawa senjata tajam, pelaku serang siswa kelas V dalam ruangan
Penyerang 7 murid SD di NTT tewas dikeroyok warga di dalam tahanan
Istana minta Polri tindak tegas penyerang 7 siswa SD di Sabu NTT
Ini kronologi lengkap penyerangan 7 anak SD di Sabu Raijua

Advertisement
(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.