Kasus gantung diri di Gunungkidul didominasi usia produktif
Ada pergeseran usia korban meninggal bunuh diri. Sebelumnya gantung diri didominasi oleh usia 60 ke atas. Saat ini korbannya berusia di bawah 60 tahun atau usia produktif. Sedikitnya ada tiga faktor penyebab bunuh diri yakni faktor biologi, psikologi, dan sosial.
Kasus gantung diri di Kabupaten Gunungkidul, DIY terbilang cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun, selama 40 hari terakhir tercatat sembilan orang meninggal dunia karena gantung diri.
Anggota Satgas Berani Hidup yang dibentuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Ida Rochmawati mengatakan, tingginya angka gantung diri di Gunungkidul bisa dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Ida cukup terkejut dengan data yang menyebut banyak korban gantung diri justru usia produktif.
"Ada pergeseran usia korban meninggal bunuh diri. Sebelumnya gantung diri didominasi oleh usia 60 ke atas. Saat ini korbannya berusia di bawah 60 tahun atau usia produktif," papar Ida yang juga merupakan dokter kesehatan jiwa di RSUD Wonosari, Sabtu (11/2).
Ida menuturkan, sedikitnya ada tiga faktor penyebab bunuh diri yakni faktor biologi, psikologi, dan sosial. Untuk itu diperlukan penanganan serius dan sedini mungkin untuk mengatasinya.
"Faktor sosial atau budaya yang banyak dipercaya masyarakat sebagai penyebab tingginya angka gantung diri di Gunungkidul adalah fenomena Pulung Gantung," terang Ida.
Perlu kerja sama semua lini untuk menekan angka bunuh diri. Penanganan kasus gantung diri selama ini masih dilakukan parsial sehingga kurang efektif.
"Selama ini tidak ada aturan yang mengikat secara sistem, untuk upaya pencegahan bunuh diri. Perlu adanya kajian untuk membuat aturan mengenai penanganan kasus bunuh diri. Sehingga bisa melakukan deteksi dini terhadap orang-orang yang berisiko bunuh diri," ujar Ida.
Terpisah, Ketua Satgas Berani Hidup, Immawan Wahyudi mengatakan pihaknya akan merumuskan mengenai penanganan kasus bunuh diri. Meski diakuinya penanganan membutuhkan metode yang lebih mendalam. Pihaknya akan merumuskan bagaimana penanganan kasus ini.
"Penanganan kasus bunuh diri itu tidak seperti menangani kasus penyakit HIV/ AIDS, atau TBC. Penanganannya berbeda," ulas Imawan.
Imawan menjabarkan bahwa penanggulangan kasus gantung diri tak hanya dilakukan pendekatan dari masyarakat maupun tokoh agama saja. Keluarga, sambung Imawan, memiliki peran yang cukup vital.
"Keluarga punya peran yang penting. Kasus bunuh diri dengan cara gantung diri bisa dideteksi lebih awal dengan peran keluarga. Sehingga nantinya bisa ditangani sebelum terjadi gantung diri," ucap Imawan.
Berdasarkan data yang dihimpun, kasus bunuh diri karena gantung diri di Gunungkidul, pada tahun 2016 sebanyak 30 orang tewas, dan 3 orang percobaan. Data tertinggi kasus bunuh diri ada di 2012, yakni mencapai angka 39 orang. Kemudian jumlah tersebut turun pada 2013 menjadi 29 kasus. Tahun berikutnya, yaitu 2014 kembali turun menjadi 19 kasus dan tahun 2015 turun menjadi 28 kasus bunuh diri, dan 3 orang percobaan. Angka kasus bunuh diri di Gunungkidul rata-rata 25 orang pertahun.
Baca juga:
Pria China selamatkan istri yang bunuh diri dengan jambak rambutnya
Dalam kurun waktu 40 hari, ada delapan warga Gunungkidul bunuh diri
Habis obat, warga Musi Rawas tembak kepalanya pakai senapan rakitan
Napi kasus pencabulan gantung diri, tulis surat wasiat buat istri
Temuan tengkorak tergantung di pohon bikin geger warga Samarinda