Juru parkir marak, muncul meme sindir Samarinda kota juru parkir
Bukan cuma menerapkan tarif seenaknya, melainkan meminta bayaran parkir motor, dengan nada mengancam.
Juru parkir liar sepekan terakhir terus jadi sorotan warga kota Samarinda, Kalimantan Timur. Keberadaan mereka dinilai sudah meresahkan, lantaran mengenakan tarif parkir seenaknya dengan tarif bervariasi mulai Rp 2.000 hingga Rp 3.000 untuk roda dua. Sementara roda empat dipungut Rp 5.000.
Netizen meluapkan kekesalan mereka dengan memunculkan meme sindiran kepada juru parkir di jejaring media sosial. Mulai dari meme 'Selamat Datang di Samarinda Kota Jukir' di jembatan Mahakam yang seharusnya tertulis Selamat Datang di Samarinda Kota Tepian hingga mengganti tulisan Taman Samarendah di simpang empat Jalan Bhayangkara-Jalan Awang Long menjadi 'Taman Jukirindah'.
Tidak hanya itu, meme lainnya juga muncul dengan mengganti tulisan monumen pesut menjadi 'Plaza Monumen Juru Parkir Liar Selamat Datang'. Munculnya meme bernuansa lelucon itu, juga menjadi perbincangan warga Samarinda.
"Meme yang ada ini memang lucu. Ini sindiran langsung ke juru parkir liar dan pemerintah kota menangani juru parkir yang memang meresahkan," kata warga Jalan Biawan, Feri Setiawan, dalam perbincangan berbincang bersama merdeka.com di warung Jenggo di kawasan pinggiran Sungai Karang Mumus, Selasa (23/2) dini hari.
Meme Samarinda kota juru parkir ©2016 merdeka.com/istimewa
Warung Jenggo sebutan khas warga Samarinda sendiri tidak jauh berbeda dengan angkringan, menjadi tempat nongkrong warga berbagai kalangan dan profesi untuk berdiskusi dan bersantai.
Feri sendiri, tidak jarang mengalami pengalaman tidak mengenakkan bersama dengan juru parkir liar. Bukan cuma menerapkan tarif seenaknya, melainkan meminta bayaran parkir motor, dengan nada mengancam.
"Bahkan di Samarinda, tempat mesin ATM saja ada juru parkirnya. Padahal itu ada di kantor bank, mungut duit parkir pagi, siang, sore dan malam," keluhnya.
"Dikasih Rp 10.000 berharap kembali Rp 8.000. Ini kembaliannya malah Rp 4.000. Itu parkir di toko mini market, yang sebenarnya bebas parkir. Kalau tidak diminta kembaliannya, ya nggak dikasih sama juru parkir," tambah warga lainnya, Wahyu.
Sementara Amrullah, warga Jalan Dr Seotomo menambahkan, tidak menjadi soal kalau memang dipungut parkir Rp 2.000, asalkan juru parkir liar benar-benar bekerja mengatur letak kendaraan parkir, menjaga motor yang tengah diparkir.
"Tapi ini juru parkir cuma santai, tiba-tiba saya didatangi, minta duit parkir. Padahal motor berantakan, tidak ditata. Enak banget," ungkap Amrullah.
"Yang repot, kalau misalnya tidak kita kasih, kita diminta pemerintah segera lapor kalau ada jukir liar seperti itu. Ya keburu kita dihantam jukir liar. Kasihan kalau perempuan atau ibu-ibu," pungkas Amrullah.
Penelusuran merdeka.com, juru parkir liar memang semakin menjamur. Sebut saja diantaranya kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan KH Abdul Khalid, hingga di Jalan KH Abul Hasan. Bahkan, di kawasan hijau Tepian Mahakam Jalan Gadjah Mada, juru parkir liar pun berseliweran.
Baca juga:
Tajir berkat uang parkir
Ahok semprot wali kota Jakpus, tak becus urus parkir ilegal di Monas
Cegah pungli dengan teknologi
Bisa tajir meski cuma tukang parkir
Melongok bisnis parkir liar di Jakarta