Jokowi terima Kepala Batan di Istana bahas potensi nuklir Indonesia
Potensi nuklir dalam negeri ada 70 ribu ton uranium, baik itu di Kalbar, Bangka Belitung, Mamuju Sulawesi Barat & Papua.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto di Istana. Menurut Djarot, Batan merupakan lembaga di bawah langsung dan bertangungungjawab pada Presiden di bawah koordinasi Menteri ESDM.
"Kita sampaikan produk-produk Batan jadi tidak melulu soal isu yang kontroversial tentang PLTN tapi juga pertanian, pangan kesehatan dan juga industri," katanya di Istana, Jakarta, Selasa (12/1).
Djarot menambahkan, pertemuannya dengan Presiden juga menyinggung soal urgensi potensi nuklir untuk kepentingan bangsa. Apa pun yang menjadi keputusan pemerintah, tegas Djarot, Batan akan mengikutinya.
Djarot menjelaskan, potensi nuklir dalam negeri ada 70 ribu ton uranium, baik itu di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Mamuju Sulawesi Barat dan Papua.
"Saya kira kita belum manfaatkan karena memang kita belum punya PLTN. Kita punya reaktor riset Bandung, Jogja dan Serpong. Itu kita menggunakan uranium yang berasal dari luar," ucapnya.
Pihaknya telah melakukan studi kelayakan di Bangka Belitung pada tahun 2011-2013 mengenai layak tidaknya pembangunan PLTN. Dia mengklaim, bila secara teknis lokasi tersebut layak didirikan PLTN.
"Secara teknis lokasi tersebut layak didirikan PLTN, tapi bagaimana pun juga itu menjadi keputusan pemerintah," tutupnya.
Baca juga:
Butuh waktu lama dan uang miliaran dolar untuk bangun PLTN
Nuklir masih jadi energi alternatif terakhir atasi krisis listrik
DEN: Tak ada daerah aman di Indonesia untuk bangun PLTN
Ini syarat membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia