LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Jimly Minta Tokoh Politik Kurangi Ujaran Kebencian dan Saling 'Ngenyek'

Pascaputusan MK, Jimly berpesan agar seluruh pihak tidak mudah terpancing dan tersinggung perasaannya apabila ada statemen di medsos yang tidak tepat. "Jadi demo di darat dan demo di udara tidak diperlukan lagi," ucapnya.

2019-06-30 00:32:00
Jimly Asshiddiqie
Advertisement

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Jimly Asshiddiqie, meminta para tokoh politik serta pemimpin formal dan informal dengan kesadaran hati mulai mengurangi ujaran kebencian pascaputusan Mahkamah Konstitusi soal sengketa hasil Pilpres 2019. Hal itu disampaikan Jimly seusai acara silaturahim parlemen di Kantor DPD RI di DIY, Yogyakarta.

"Mengurangi ujaran kebencian, mengurangi statemen-statemen yang saling 'ngenyek' (mencibir)," kata Jimly. Demikian dikutip dari Antara, Sabtu (29/6).

Menurut Jimly, para pihak yang sebelumnya berada pada kubu pasangan Prabowo-Sandiaga Uno maupun Jokowi-Ma'ruf Amin harus saling menghargai satu sama lain. Apalagi, baik kubu yang kalah maupun yang menang dari sisi jumlah sama-sama banyaknya.

Advertisement

"Yang satu 78 juta (pendukung), yang satunya 85 juta. 78 juta itu banyak sekali, 78 juta orang ingin ganti presiden itu banyak sekali, kalau 10 persen saja emosional sudah 7 juta. Jadi kita harus menang tanpa 'ngasorake' (merendahkan) dan kalah juga jangan mencibir," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Pascaputusan MK, menurut dia, rekonsiliasi akan secara alamiah terwujud. Meski demikian, komunikasi publik juga harus terus diperbaiki. "Misalnya, di medsos jangan ada lagi (ujaran kebencian) supaya demo di jalanan juga tidak perlu ada. Jadi demo di darat dan demo di udara tidak diperlukan lagi," ucapnya.

Ia juga berpesan agar seluruh pihak tidak mudah terpancing dan tersinggung perasaannya apabila ada statemen di medsos yang tidak tepat. "Jangan ada yang 'baper' bawa perasaan. Kadang ada (komentar) anak muda di Twitter, ya tidak usah dibaca, tidak udah ditanggapi," tegasnya.

Advertisement

Baca juga:
Sebar Hoaks di Medsos, Simpatisan Salah Satu Ormas Ditangkap
Lawan Hoaks dengan Perbanyak Konten Damai di Dunia Maya
Mabes Polri Rilis Barang Bukti Kasus Kreator Propaganda dan Penyebar Hoax
Polisi Ingatkan Ustaz Rahmat Baequni Tidak Sebar Hoaks Lagi Saat Ceramah
Komnas HAM: Patroli WhatsApp Kurangi Kemerdekaan Individu
20 Jam Diperiksa dan Jadi Tersangka, Ustaz Rahmat Baequni Tidak Ditahan

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.