LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Irjen Ursinus geram pada polisi KUHP (Kasih Uang Habis Perkara)

"Kalau ingin kaya, saya tidak jadi polisi. Saya jadi polisi karena ingin mengabdi," kata Ursinus. Kalau polisi lain?

2013-03-27 07:31:00
polisi teladan
Advertisement

Dari dulu banyak polisi lalu lintas yang memeras pengendara mobil dan motor. Kini sejumlah sopir truk mengeluhkan kelakuan polisi yang memeras mereka di jalan raya Tegineneng Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Kalau mau aman, sopir truk harus setor Rp 50.000-Rp 100.000.

Tahun 1960an, beredar sindiran untuk polisi lalu lintas yang nakal. Ada 'prit jigo', artinya setiap peluit berbunyi untuk menilang, Rp 25 diberikan sebagai uang damai. Ada juga istilah 'KUHP' alias 'Kasih Uang Habis Perkara'.

Semua istilah ini membuat Direktur Lalu Lintas Kepolisian Brigjen Pol Ursinus geram. Jenderal jujur ini kesal sekaligus malu menyaksikan kelakuan anak buahnya.

"Petugas kepolisian dan pelanggar lalu lintas lebih suka berkompromi daripada mencari penyelesaian secara hukum," kata Ursinus dalam buku Ursinus buku Bhayangkara Pejuang Melawan Penjajah dan Arus Korupsi, terbitan Gramedia Pustaka.

Dia memeras otak untuk melawan pelanggaran lalu lintas, sekaligus menghindari polisi-polisi nakal main di jalan. Ursinus akhirnya merumuskan sistem bukti pelanggaran alias Tilang yang kita kenal sekarang. Saat itu Ursinus dan Wakil Panglima Kepolisian Irjen Hoegeng Imam Santoso yang menciptakan surat tilang itu.

Ada lima warna dalam surat tilang yang dikeluarkan polisi. Merah untuk pelanggar, putih untuk pengadilan negeri, hijau untuk kejaksaan negeri, biru untuk bagian administrasi lalu lintas, kuning untuk bagian operasi lalu lintas.

Ursinus berharap tak ada lagi polisi yang memanfaatkan kesempatan. Dia prihatin melihat nilai polisi yang tak ada harganya, dikalahkan uang receh Rp 25 rupiah.

Menurut putra sulung Ursinus, Elias Christian Medellu, ayahnya selalu siap 24 jam mendengar laporan jika ada polisi yang melanggar. Ursinus pun tak segan menghukum jika bawahannya melanggar.

Ursinus sendiri tak cuma bisa menghukum bawahannya yang memeras rakyat. Dia mencontohkan bagaimana hidup tak korupsi, menjaga disiplin dan jujur. Karena itu hidup Ursinus walau berpangkat jenderal bintang satu ketika itu, pas-pasan. Bahkan dia harus meminjam uang mertua untuk menghidupi delapan anaknya.

"Kalau saya ingin kaya, saya tidak jadi polisi. Saya jadi polisi karena ingin mengabdi," kata Ursinus yang mungkin sudah dilupakan para polisi penerusnya.

Baca juga:
Jenderal Ursinus Medellu polisi lalu lintas paling jujur
Tak mau korupsi, Jenderal Ursinus sampai pinjam uang mertua
Walau cuma sebuah lemari, Jenderal Ursinus tak mau disuap
Jenderal Ursinus tak tergiur uang BPKB ratusan juta
Kisah Markas Korlantas Polri, KPK dan jujurnya Jenderal Ursinus
Kisah Jenderal Polisi Ursinus tolak upeti 1.000 liter minyak
Ironis, Irjen Djoko ternyata murid kesayangan si jenderal jujur

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.