Inovasi Mahasiswa UMY: Scanoma, Alat Deteksi Dini Kanker Kulit Berbasis AI
Mahasiswa UMY berhasil mengembangkan Scanoma, alat deteksi dini kanker kulit berbasis AI. Inovasi ini bertujuan membantu masyarakat mendeteksi gejala lebih cepat.
Yogyakarta kembali menjadi saksi inovasi penting dalam dunia kesehatan. Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sukses mengembangkan sebuah alat canggih bernama "Scanoma". Perangkat ini dirancang khusus untuk deteksi dini kanker kulit dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mutakhir.
Pengembangan Scanoma didasari oleh keprihatinan tim terhadap banyaknya kasus kanker kulit yang baru terdeteksi pada tahap lanjut, yang seringkali mempersulit proses pengobatan. Ketua Tim Mahasiswa UMY, Salsa Faatin Al-Dhinar, menyatakan bahwa mereka ingin membuktikan bagaimana teknologi dapat mendorong tindakan medis yang lebih cepat dan efektif. Inisiatif ini diharapkan mampu mengubah paradigma deteksi kanker kulit di Indonesia.
Proyek inovatif ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pendanaan Nasional 2025, yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Mahasiswa dari Fakultas Farmasi dan Teknik Elektro UMY bersinergi untuk menciptakan solusi kesehatan berbasis teknologi. Proses perancangan alat ini berlangsung intensif sejak 7 Juli hingga 3 November 2025, menunjukkan komitmen tinggi para pengembangnya.
Scanoma: Solusi Inovatif Deteksi Kanker Kulit Lebih Awal
Scanoma hadir sebagai jawaban atas tantangan deteksi dini kanker kulit yang kerap terlambat. Alat ini dirancang untuk menganalisis citra lesi kulit secara real-time, memberikan hasil yang cepat dan akurat. Dengan demikian, masyarakat dan tenaga kesehatan dapat mengambil langkah preventif atau penanganan lebih awal, yang sangat krusial dalam keberhasilan pengobatan kanker.
Teknologi inti yang digunakan dalam Scanoma adalah metode Convolutional Neural Network (CNN). CNN merupakan salah satu jenis jaringan saraf tiruan yang sangat efektif dalam pengenalan pola dan analisis citra. Tingkat akurasi Scanoma saat ini mencapai 75,22 persen, menunjukkan potensi besar dalam membantu identifikasi dini lesi kulit yang mencurigakan.
Tim pengembang berharap Scanoma tidak hanya menjadi alat diagnostik, tetapi juga edukatif. Dengan adanya alat ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kulit secara rutin diharapkan meningkat. Deteksi dini adalah kunci utama untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker kulit.
Kolaborasi Lintas Disiplin dan Tantangan Pengembangan
Pengembangan Scanoma merupakan contoh nyata kolaborasi lintas disiplin yang efektif. Mahasiswa Fakultas Farmasi UMY berperan penting dalam karakterisasi lesi kulit dan penentuan parameter klinis yang relevan. Sementara itu, mahasiswa Teknik Elektro bertanggung jawab atas integrasi perangkat keras dan sistem pengolahan citra digital, memastikan teknologi berjalan optimal.
Perjalanan pengembangan Scanoma tidak lepas dari berbagai tantangan teknis. Tim sempat menghadapi kendala seperti keterlambatan kedatangan kamera dermatoskop digital, ketidaksesuaian kabel, hingga kesalahan pada sistem perangkat lunak. Namun, berkat kegigihan dan kerja keras, semua hambatan tersebut berhasil diatasi.
Setelah melalui serangkaian penyempurnaan, Scanoma dirancang menjadi alat portabel berbasis "Raspberry Pi". Desain ini membuatnya hemat daya dan mudah dioperasikan, sehingga sangat cocok untuk digunakan di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Fleksibilitas ini memperluas jangkauan penggunaan Scanoma, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
Dampak dan Harapan untuk Kesehatan Masyarakat
Kehadiran Scanoma diharapkan membawa dampak positif yang signifikan bagi kesehatan masyarakat. Dengan kemampuannya mendeteksi kanker kulit lebih dini, alat ini dapat mengurangi risiko keparahan penyakit dan meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Ini merupakan langkah maju dalam upaya pencegahan dan penanganan kanker kulit di Indonesia.
Salsa Faatin Al-Dhinar menyampaikan harapan besar terhadap inovasi ini. "Kalau alat ini bisa membantu satu orang saja mengenali gejala kanker lebih cepat, perjuangan kami sudah tidak sia-sia," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan semangat dan dedikasi tim dalam menciptakan solusi yang benar-benar bermanfaat bagi kemanusiaan.
Selain itu, Scanoma juga berpotensi menjadi alat pendukung bagi tenaga kesehatan, terutama di daerah terpencil. Dengan adanya teknologi ini, proses skrining dan diagnosis awal dapat dilakukan dengan lebih efisien, memungkinkan rujukan cepat ke spesialis jika diperlukan. Ini adalah wujud nyata penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan bersama.
Sumber: AntaraNews