Ini yang harus dilakukan agar korban Emon tak jadi paedofil
Para korban paedofil sangat memerlukan pendampingan atau konseling berkelanjutan dan komprehensif.
Data menyebut lebih dari 50 persen pelaku paedofil mengaku pernah menjadi korban penyimpangan seks di masa kecilnya. Emon pelaku paedofil yang fenomenal ini mungkin salah satunya. Pria bernama Andri Sobari itu mengaku masa kecilnya pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh orang dewasa.
Ketua Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Dr Teddy Hidayat mengatakan paedofil merupakan penyimpangan seks terhadap anak kecil. Rasa itu muncul karena penyakit kejiwaan (psikis) yang berorientasi menyimpang. Maka itu korban pedofil khususnya korban Emon harus dicegah agar tidak jadi Emon-Emon berikutnya.
Saat ini jumlah korban Emon mencapai 18 anak. Jika didiamkan dikhawatirkan penerus paedofil akan bertambah. "Ini harus menjadi perhatian mendasar oleh kita semua," kata Teddy di RSHS Bandung, Rabu (7/5).
Misalnya kerja sama dengan tim perlindungan perempuan dan anak, tapi leadernya tetap Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan Sukabumi disarankan mendata atau memilah dari 18 anak korban Emon, anak mana yang baru menjadi korban dan anak mana yang sudah lama menjadi korban.
"Korban baru dan lama berbeda cara penanganan atau pendampingannya. Para korban harus dicek apakah terserang penyakit akibat perbuatan Emon, misalnya pendarahan, penyakit menular seksual dan lainnya," ujarnya.
Kecenderungan korban paedofil saat ini tertuju pada ketakutan yang ditimbulkan perbuatan pelaku. Padahal ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, yakni perkembangan psikis dan masa depan korban itu sendiri.
Para korban paedofil sangat memerlukan pendampingan atau konseling berkelanjutan dan komprehensif.
"Tujuannya untuk mengetahui arah psikoseksualnya, misalnya menyukai sesama sejenis atau tidak."
Selain korban, tidak lupa dia mengingatkan aspek pendampingan kepada keluarga korban juga penting. Keluarga harus diberi motivasi bagaimana agar anak tidak minder atau rendah diri karena salah satu keluarganya menjadi korban kekerasan seks anak di bawah umur.
"Pasti korban itu akan menjadi minder, sehingga keluarga harus didorong agar tidak jadi pemalu. Ini tentu berat apalagi lingkungan membentuk stigma bahwa pernah jadi korban sodomi," jelasnya.
Tidak lupa kepada media, agar korban Emon ini tidak terus-terusan di blow up media. Privasi korban harus tetap terjaga karena dampak negatif ke depannya akan terus menimbulkan traumatik.
Dengan pencegahan itu, diharapkan korban paedofil atau kasus pedofil bisa diminimalisir.
Hingga kini pedofil belum diketahui penyebab pastinya. Lanjut Teddy, paedofil bisa hadir karena faktor genetik atau keturunan, pola asuh di masa kecil terutama ketika fase lima tahunan, dan faktor pengalaman seksual di masa kecil.
"Pengalaman seksual di masa kecil ini menjadi penting, bagi saya ini pengaruhnya paling besar. Maka pencegahannya, orangtua jangan sembarang menitipkan anak," jelasnya.
Emon tegas dia harus dijadikan pelajaran berharga bagi semua orang tua bahwa paedofil tidak datang dari keturunan tapi bisa hadir karena pernah hadir dalam kehidupannya.
Baca juga:
Ketum PBNU: Pelaku sodomi harus dihukum seberat-beratnya
KPAI minta pelaku kekerasaan seksual dihukum maksimal
Kapolda: Emon idap kelainan seks akut, tapi kejiwaan normal
Kapolda Jabar: Dari 113 bocah, Emon sodomi 18 anak
Pakai baju loreng tempur, Kopral Bagyo ajak perangi paedofil