Ini penjelasan Profesor Matematika ITB soal PR murid SD
Menurut Hendra, sang guru overacting bila secara sadar dia sudah menuntut anak bekerja dengan definisi.
Publik sempat tersentak saat beredar PR murid SD bernama Habibi tentang perkalian dan penjumlahan berulang. Salah satu soalnya, 4+4+4+4+4+4= 4x6= 24 namun guru menganggap salah, versi yang benar adalah 4+4+4+4+4+4= 6x4= 24. Hasil sama namun proses beda.
Berikut ulasan Profesor Matematika dari fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB), Hendra Gunawan. Hendra mengatakan ada beberapa isu dalam permasalahan itu.
"Pertama, apakah anak kelas 2 SD memang sudah waktunya diajak 'bermain' dengan definisi? Menurut saya, sang guru overacting bila secara sadar dia sudah menuntut anak bekerja dengan definisi (yang ketat pula)," tulis Hendra dalam blog pribadinya yang dikutip merdeka.com, Selasa (23/9).
Kedua, lanjut Hendra, yang namanya definisi itu kesepakatan. Hendra mempertanyakan sikap guru yang mengajak anak Kelas 2 SD, yang masih berpikir dalam tahap konkrit, untuk bersepakat tentang sesuatu yang baru akan dipelajari dengan guru, manusia dewasa, yang sudah bisa berpikir abstrak.
"Bijak kah? Lagi pula, dalam matematika, definisi tidak harus unik. Beberapa definisi (yang setara) bisa dibuat untuk satu hal yang sama," jelas dia.
Ketiga, masalah penyajian soal. Hendra menuturkan, penjumlahan berulang memang diajarkan lebih dahulu daripada perkalian. Namun, soal di atas jelas memperlihatkan bahwa perkalian dianggap sebagai 'singkatan' dari penjumlahan berulang.
"Padahal, penjumlahan berulang bisa dipandang sebagai metode atau cara untuk menyelesaikan persoalan perkalian. Karena itulah, sebelum belajar perkalian, penjumlahan berulang diperkenalkan terlebih dahulu. Tujuannya, ketika anak belajar perkalian, senjatanya sudah ada," tutur Hendra.
Dalam konteks ini, kata Hendra, guru seharusnya memulai dengan soal perkalian, lalu meminta anak untuk menyelesaikannya dengan menggunakan penjumlahan berulang. Hendra menuturkan, guru harus memilihkan soal yang cukup konkret buat anak. Sebagai contoh, mintalah anak menghitung banyak ubin pada lantai, yang terdiri dari 4 baris, masing-masing baris terdiri dari 6 ubin.
Bagaimana anak menghitungnya? Ingat, anak sudah diajarkan penjumlahan berulang sebelumnya. Dalam hal ini, anak bisa menghitungnya baris per baris: 6 + 6 + 6 + 6 = 24. Tetapi, ini bukan satu-satunya cara. Anak juga bisa menghitung 'kolom per kolom': 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 24. Bahkan, anak yang belum mantap dengan penjumlahan berulang bisa juga mencacah ubin tersebut: 1 + 1 + ... + 1 = 24. Semuanya benar.
Guru kemudian memberi soal serupa, misalnya: Ada 3 baris ubin, masing-masing terdiri dari 9 ubin. Berapa ubin semuanya? Setelah cukup bermain dengan ubin; guru pindah ke papan tulis, dan menulis (misalnya): Ini adalah 4 x 6.
Bagaimana menghitungnya? Berdasarkan permainan dengan ubin sebelumnya, 4 x 6 dapat dihitung baris per baris sebagai 6 + 6 + 6 + 6 atau kolom per kolom sebagai 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4. Mau pilih yang mana?
"Kalau ada anak yang bertanya, "Bu, kalau saya anggap itu 6 x 4, boleh ngga?". Kenapa tidak, nak? Kalau kamu anggap 6 x 4, memangnya bagaimana kamu akan menghitungnya? Bisa baris per baris, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4, atau kolom per kolom 6 + 6 + 6 + 6, ya kan? Di sini, baris bertukar dengan kolom. Tapi angka-angkanya itu-itu juga," jelas Hendra.
Jadi berapa 4 x 6? 24. Berapa 6 x 4? 24 juga. Nah, dalam perkalian, 4 x 6 = 6 x 4, ya anak-anak! Sifat yang serupa juga kita temui dalam penjumlahan: 5 + 7 = 7 + 5.
"Tapi jangan berpikir semua operasi bisa dibolak-balik, contohnya 4 – 2 tidak sama dengan 2 – 4. Hati-hati ya!" tutup Hendra.
Baca juga:
Ini penjelasan Prof Yohanes terkait PR Matematika kelas 2 SD
Profesor Matematika: Di Matematika, guru bukan sumber kebenaran
Guru besar dan pakar Matematika ini bicara soal PR kelas 2 SD
Ini pengakuan Erfas soal PR Matematika adik
Ini jawaban 5 anak SD hadapi soal yang heboh di Facebook