Indonesia Bisa Contek India Soal Keselamatan Lalu Lintas, Soal Apa?
Penerapan teknologi keselamatan seperti ABS menjadi relevan dan krusial.
India belum lama ini menelurkan kebijakan selamatan di jalan raya.Mulai 1 Januari 2026, pemerintah India akan mewajibkan penggunaan sistem pengereman Anti-lock Braking System (ABS), pada seluruh sepeda motor dan skuter baru, tanpa melihat kapasitas mesin.
Founder TRAX (Traffic Accident Research & Prevention Society), NGO Road Safety India, Rajni Gandhi menjelaskan, perencanaan penerapan ABS pada seluruh sepeda motor ini supaya sistem ini dapat membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik serta meningkatkan stabilitas dan jarak pengereman dalam berbagai kondisi.
Dalam konteks inilah, penerapan teknologi keselamatan seperti ABS menjadi relevan dan krusial. Teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pengendara, melainkan sebagai penopang keselamatan yang bekerja saat refleks manusia berada di batasnya.
ABS adalah sistem pengereman canggih yang dirancang untuk mencegah roda terkunci saat pengendara melakukan pengereman mendadak. Sensor yang ada pada roda akan mendeteksi jika ada risiko roda berhenti berputar dan mengatur tekanan rem secara otomatis. Dengan begitu, pengendara tetap bisa mengontrol motor, bahkan dalam situasi darurat.
Di Indonesia, penerapan teknologi pengereman seperti ABS baru dapat ditemukan pada sepeda motor berkapasitas besar, sementara mayoritas masyarakat menggunakan sepeda motor dengan kapasitas mesin di bawah 150 cc.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah mengkaji penguatan regulasi melalui rencana memasukkan adopsi standar keselamatan dan teknologi internasional, seperti ABS, ke dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, yang saat ini masih berada dalam proses revisi. Hal ini sejalan dengan data Korlantas Polri mencatat bahwa sekitar 44 persen kecelakaan sepeda motor sepanjang 2024 dipicu oleh kegagalan fungsi pengereman.
"Saya sangat iri dengan India, karena di sana banyak organisasi non-pemerintah yang secara konsisten fokus pada isu keselamatan jalan. Aspirasi yang mereka suarakan benar-benar didengar, ditampung, dan ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting dalam membenahi tingginya angka kecelakaan lalu lintas, hingga akhirnya melahirkan kebijakan yang konkret," ucap Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano.
Isu Keselamatan Jalan Indonesia
Dia menilai, di tingkat nasional isu keselamatan jalan belum sepenuhnya ditempatkan sebagai agenda lintas sektor yang terintegrasi dalam kebijakan. Upaya yang ada sering berjalan parsial, antara peningkatan perilaku pengguna jalan dan penguatan standar kendaraan, tanpa kerangka yang seimbang dan saling menguatkan.
Setiap tahun, sekitar 31 ribu orang meninggal dunia di jalan raya Indonesia, dengan kerugian ekonomi yang mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini setara dengan total belanja nasional untuk sektor kesehatan dan menempatkan kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu krisis keselamatan paling serius di Indonesia.
Temuan tersebut pun menegaskan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban kecelakaan lalu lintas tertinggi di kawasan ASEAN, terutama yang melibatkan kendaraan roda dua. Padahal data AISI mencatat penjualan sepeda motor pada November 2025 tumbuh 2,1 persen menjadi 523.591 unit, sementara sistem dan standar keselamatan kendaraan belum mengimbangi lonjakan tersebut.
ABS Berpotensi Tekan Kecelakaan
Studi Fakultas Teknik Universitas Indonesia menunjukkan penggunaan ABS berpotensi menekan kecelakaan sepeda motor hingga 24 persen. Dengan target penurunan fatalitas 50 persen pada 2030 dan angka kematian yang masih sekitar 26 ribu jiwa per tahun, penguatan kebijakan keselamatan berbasis teknologi menjadi kebutuhan mendesak.
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan, Yusuf Nugroho menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari upaya pencegahan kecelakaan.
"Perkembangan teknologi sangat pesat dan berkaitan erat dengan keselamatan. Banyak fitur keselamatan kini dapat diimplementasikan di Indonesia, mulai dari rem ABS hingga sistem stability control yang secara otomatis membantu kendaraan bermanuver lebih aman," katanya.
Keselamatan jalan tidak dapat dicapai dengan memilih antara teknologi kendaraan atau edukasi pengendara. Keduanya merupakan pilar yang berbeda namun saling melengkapi. Penguatan perilaku pengguna jalan tetap krusial, sementara standar dan teknologi kendaraan berkeselamatan berfungsi sebagai perlindungan sistemik untuk mengurangi dampak fatal ketika kecelakaan terjadi, baik pada sepeda motor maupun mobil.