IDAI Usulkan Partial Lockdown di Jabodetabek Cegah Penyebaran Virus Corona
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memandang perlu untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dokter Aman B Pulungan mengatakan, diperlukan adanya transparansi data mengenai hasil tes dan cluster.
World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Covid-19 atau Corona sebagai pandemi global, pada 11 Maret 2020. Corona dapat menginfeksi seluruh golongan usia termasuk anak-anak, terlebih pada 13 Maret 2020, telah ada anak Indonesia yang terjangkit virus corona.
Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memandang perlu untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dokter Aman B Pulungan mengatakan, diperlukan adanya transparansi data mengenai hasil tes dan cluster.
"Harus ada kesamaan batasan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) guna menegakkan diagnosis pasti pada anak yang dicurigai mengidap Covid-19. Diperlukan penelusuran yang pasti untuk dapat mengetahui dengan jelas sumber penularan penyakit tersebut pada anak," kata Aman dalam keterangan persnya, Jakarta, Senin (16/3).
"Ikatan Dokter Anak Indonesia mengusulkan partial lockdown setidaknya untuk kawasan Jabodetabek karena sudah diketahui banyak kasus dan sudah ada yang meninggal," sambungnya.
Selain itu, Perwakilan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Anak IDAI, Dokter Darmawan B. Setyanto, menambahkan, infeksi penyakit ini mirip dengan selesma atau common cold dengan gejala seperti batuk, pilek, dan demam. Sehingga, menyulitkan dokter untuk dapat menegakkan diagnosis pasti Covid-19 tanpa adanya kejelasan sumber penularan.
"Diperlukan adanya transparansi data mengenai ODP dan PDP yang saat ini ada di masyarakat. Kejelasan mengenai batasan ODP dan PDP sangat diperlukan agar tatalaksana yang dilakukan sesuai dengan keadaan terkini," tambah Darmawan.
Sementara itu, Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Dokter Anggraini Alam menuturkan, infeksi ini menyebar dengan cepat dan diperlukan adanya self-isolation yang sempat dibahas oleh Dokter Aman untuk turut diterapkan pada anak.
"Semua dokter harus siap untuk menerima semua pasien. Dokter harus mampu mengenali dan membuka pedoman kembali agar dapat melakukan tatalaksana yang tepat," ujar Anggraini.
"Dokter harus dapat menjaga diri agar tetap sehat, serta keterlibatan laboratorium. Sehingga mudah dalam menegakkan diagnosis sehingga data real-time dapat terkumpul dengan baik," sambungnya.
Lalu, Dokter Hartono Gunardi selaku Ketua Bidang 3 PP IDAI dan konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial menjelaskan, perilaku hidup bersih dan sehat diperlukan untuk dapat mencegah penyebaran infeksi penyakit ini.
"Mengetahui etika batuk dan bersin merupakan sebuah keharusan, serta cuci tangan sebelum makan dan sesudah adanya kontak dengan cairan tubuh. Nutrisi yang baik juga diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh anak," jelas Hartono.
"Sekolah yang ditutup harus dimanfaatkan untuk anak beristirahat dengan sebaik mungkin untuk tinggal di rumah dan bukan untuk berjalan-jalan ataupun mengunjungi kakek-nenek yang rentan terinfeksi," tutupnya.
Baca juga:
Jokowi Sebut Kondisi Kesehatan Menhub Budi Karya Semakin Membaik
Bank Indonesia Karantina Uang 14 Hari Sebelum Diedarkan Lagi
Sumatera Utara Tetapkan Status Siaga Corona, 3 Pasien Suspect Dirawat
Mulai Besok, Pegawai Bank Indonesia Kerja dari Rumah
Gara-Gara Corona, Pembahasan Omnibus Law di DPR Kemungkinan Ditunda
Penumpang KRL Turun 32 Persen
Menteri Tjahjo Pastikan PNS Tetap Terima Tunjangan Meski Kerja dari Rumah