Hajar warga, 2 WN Belanda di Bali nyaris diamuk massa
Alexander Bernardus C Hock (70) dan anaknya Alexander Constantine (17) bersyukur, cepat diamankan petugas ke Polsek Abang, Karangasem di Bali. Keduanya nyaris diamuk warga setempat setelah menganiaya warga Banjar Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
Alexander Bernardus C Hock (70) dan anaknya Alexander Constantine (17) bersyukur, cepat diamankan petugas ke Polsek Abang, Karangasem di Bali. Keduanya nyaris diamuk warga setempat setelah menganiaya warga Banjar Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
Kejadian ini berawal ketika korban I Wayan Sudarma Alit (47) sedang memikul bambu menuju bukit tempat tinggal. Saat melintas di Vila Pondok Laut yang berlokasi di sisi jalan raya, tiba-tiba korban didatangi Alexander Constantine.
Dengan mengoceh menggunakan bahasa yang tidak dimengerti korban, saat itu Alit mengaku didorong serta dada dan perut dipukul. Korban tersungkur, bambu yang dipikul ambyar.
Melihat kejadian itu, anak korban I Gede Sudarma Yasa (19) bersama sang paman berusaha menolong.
Di waktu bersamaan, Alexander Bernardus keluar dari vila dan mengadang langkah Yasa. Pelaku kemudian memukul wajah Yasa hingga hidungnya berdarah.
Bapak dan anak ini terus melangsungkan serangan pukulan dan tendangan kepada kedua korban. Warga lain yang melihat berusaha menghentikan, dan meminta kedua meener Belanda ini kembali masuk vila.
Bukannya merasa bersalah, pelaku justru kembali keluar sambil mengacungkan senjata. Hal ini memicu kemarahan warga dan akhirnya mengepung vila tempat pelaku tinggal.
Tak terima diperlakukan seperti itu, korban bersama anaknya kemudian melaporkan penganiayaan yang dilakukan kedua pelaku tersebut ke Mapolsek Abang.
"Demi keamanan pelaku untuk sementara kita amankan. Sejauh ini pelaku belum mau dimintai keterangan dengan alasan harus didampingi oleh penasihat hukumnya. Pihak korban juga sudah diambil visum," kata Kapolsek Abang AKP Nyoman Sugitayasa, Selasa (5/9).
Diakuinya memang selama ini warga sekitar sering kesal dengan ulah pelaku. Pelaku sering marah-marah ketika ada warga yang memasak nasi menggunakan tungku api.
Sementara alasan pelaku memukul korban karena pelaku kesal korban menyetel musik keras-keras, dan itu dibantah korban karena korban merasa tidak pernah menyetel musik, apalagi korban tinggal di atas bukit jauh dari vila tempat tinggal pelaku.
"Anak pelaku sementara ini kita lepas karena masih di bawah umur, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan warga sekitar yang masih emosi dengan ulah kedua pelaku agar tidak berbuat anarkis," pungkas Kapolsek sembari menegaskan pelaku sudah ditetapkan tersangka.(mdk/cob)