LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA
  2. NASIONAL

Fenomena Brain Drain, Dampak Rekrutmen Kerja Jalur 'Ordal'

Saat ini, Indonesia sedang mengalami fenomena brain drain, di mana banyak intelektual, ilmuwan, dan cendekiawan memilih untuk tinggal di negara lain.

Selasa, 28 Jan 2025 10:18:00
yogyakarta
Cerita WNI di Swiss Pilih Belanja ke Jerman karena Harga Sembako Lebih Murah sampai 50 Persen. (Dok: TikTok @@livewitheveee) (© 2025 Liputan6.com)
Advertisement

Fenomena brain drain di Indonesia, yang merujuk pada pergerakan kaum intelektual, ilmuwan, dan cendekiawan yang memilih untuk tinggal di luar negeri, semakin meningkat.

Hempri Suyatna, seorang pakar Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan dari Fisipol UGM, menyatakan bahwa fenomena ini sebenarnya telah berlangsung lama. Ia mencatat bahwa pada tahun 1960-an, banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri dan memilih untuk tidak kembali, melainkan bekerja di negara lain.

"Fenomena ini masih berlanjut hingga kini, di mana banyak tenaga terampil dan profesional Indonesia lebih memilih berkarir di luar negeri dibandingkan di tanah air," ungkap Hempri.

Hempri menambahkan bahwa data dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham menunjukkan, antara tahun 2019 hingga 2022, terdapat 3.912 warga negara Indonesia (WNI) yang beralih menjadi warga negara Singapura, yang menandakan bahwa Indonesia berpotensi kehilangan sumber daya manusia berkualitas.

Advertisement

Hal ini menunjukkan bahwa Singapura dianggap sebagai tempat yang lebih baik untuk membangun karir.

"Singapura dianggap lebih baik sebagai lokasi untuk berkarir dan memperoleh peluang ekonomi serta pendidikan," ujarnya.

Advertisement

Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar individu yang pindah adalah mereka yang berada dalam rentang usia produktif, yaitu antara 25 hingga 35 tahun, yang sangat disayangkan.

Upaya Pencegahan Brain Drain

Menurut laporan peringkat human flights and brain index tahun 2024 yang dirilis oleh The Global Economy, Indonesia kini menempati posisi ke-88 dari 175 negara.

"Anak-anak muda ini memiliki potensi, kreativitas, dan inovasi yang sangat baik. Sangat disayangkan ketika mereka harus pergi ke luar negeri. Indonesia tidak hanya kekurangan tenaga terampil, tetapi juga dapat mengakibatkan ketimpangan ekonomi antar negara serta memperlambat pembangunan di dalam negeri," jelasnya.

Untuk mengurangi dampak dari fenomena brain drain, Hempri menyarankan penerapan konsep link and match, yang telah lama dikembangkan, termasuk program Kampus Merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Nadiem Makarim, melalui berbagai inisiatif seperti magang, wirausaha, dan pertukaran mahasiswa.

Model-model seperti ini cukup menarik karena dapat mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki pasar kerja setelah lulus, meskipun banyak tantangan yang dihadapi.

"Contohnya, ada masalah dalam pendampingan setelah kegiatan, dan beberapa mahasiswa mengikuti program tersebut hanya untuk mendapatkan nilai, sehingga pembelajaran yang seharusnya diperoleh tidak berkembang dengan optimal," paparnya.

Hempri juga mendesak pemerintah untuk segera menyusun Grand Design Pembangunan Kependudukan yang akan berfungsi sebagai cetak biru dalam merencanakan kebutuhan dan ketersediaan lapangan kerja.

"Dengan adanya link and match antara pendidikan dan pasar kerja, diharapkan dapat meminimalkan anak-anak muda terampil yang memilih untuk bekerja di luar negeri," jelasnya.

Meski begitu, Hempri mengingatkan bahwa peta kebutuhan ini tidaklah cukup, mengingat dinamika pasar kerja yang terus berubah.

Ia menyoroti bahwa selama proses rekrutmen, sering kali digunakan sistem kekerabatan atau dikenal dengan istilah Ordal (orang dalam), sehingga program tersebut bisa menjadi tidak efektif.

Advertisement

"Kondisi ini masih dominan, sehingga individu yang memiliki kompetensi baik belum tentu diterima di pasar kerja," ujarnya.

Berita Terbaru
  • Sempat Bikin Panik Pengunjung, Ini Penjelasan Pasar Jaya soal Insiden Eskalator di Tanah Abang
  • Pemerintah Kabupaten Bengkayang Matangkan Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi, Siap Cetak Generasi Unggul
  • Edukasi Mangrove Parimo: Puluhan Pelajar SD Diajak Jaga Ekosistem Pesisir dan Kelola Sampah
  • Polres Singkawang Gelar Turnamen E-sport Mobile Legends, Wadah Pembinaan Generasi Muda
  • Satpol PP Serang Tertibkan 28 Bangunan Liar, Jaga Estetika Wilayah
  • akademisi ugm
  • berita update
  • brain drain
  • causes of brain drain
  • how to prevent brain drain
  • impacts of brain drain
  • konten ai
  • ugm
  • what is brain drain
  • yogyakarta
Artikel ini ditulis oleh
Editor Achmad Fikri Fakih Haq
Y
Reporter Yanuar H, Muhamad Ridlo
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.