Fakta Unik: Kolaborasi Jakarta Milan Hadirkan Seni Publik, Perkuat Identitas Lokal di Panggung Dunia
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kota Milan berkolaborasi dalam program seni publik "Public Art and Co-Creation", bertujuan memperkuat identitas budaya lokal dan posisi Jakarta sebagai kota global di mata dunia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjalin kerja sama strategis dengan Kota Milan, Italia. Kolaborasi Jakarta Milan ini berfokus pada pengembangan seni publik yang bertujuan memperkuat identitas budaya lokal. Inisiatif ini merupakan bagian dari "Leadership Exchange Programme" (LEP) putaran ketiga yang digagas oleh World Cities Culture Forum (WCCF).
Kerja sama ini mengusung tema "Public Art and Co-Creation", menyoroti peran penting lembaga budaya dan masyarakat. Tujuannya adalah menghadirkan karya seni yang tidak hanya estetis, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga di kalangan warga. Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menjelaskan harapan besar di balik program ini.
"Kami berharap kolaborasi ini dapat menghadirkan karya seni publik yang tidak sekadar hadir sebagai karya, tetapi juga menumbuhkan rasa banggang dan kedekatan emosional terhadap budaya Jakarta,” ujar Mochamad Miftahulloh Tamary. Keikutsertaan Jakarta dalam program ini menjadi momentum krusial. Ini akan memperkuat peran budaya dalam membentuk karakter dan wajah kota metropolitan.
Kolaborasi Jakarta Milan: Memperkuat Identitas Budaya dan Visi Global
Kolaborasi Jakarta Milan melalui LEP 2025 ini sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029. Visi tersebut menempatkan Jakarta sebagai kota global yang berbudaya dan berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan langkah konkret untuk mencapai tujuan tersebut.
Program "Public Art and Co-Creation" bukan hanya tentang estetika visual. Lebih dari itu, program ini berupaya mengintegrasikan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat komunitas. Hal ini diharapkan mampu memperkuat jejaring antarwarga.
Melalui inisiatif ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya mengaktifkan titik-titik budaya. Sebanyak 44 kecamatan dan 267 kelurahan diharapkan tumbuh menjadi pusat budaya yang hidup. Mereka juga harus berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Titik Temu": Menggerakkan Partisipasi Warga Menuju Jakarta Global
Dalam LEP 2025, Jakarta mengangkat program “Titik Temu” (The Meeting Point) sebagai tema utama pertukaran dengan Milan. Program ini dirancang untuk menjadi wadah interaksi dan kreasi budaya. Ini juga mendorong keterlibatan aktif dari berbagai komunitas.
"Titik Temu" bertujuan memperkaya pengalaman budaya warga menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027. Program ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan dan menikmati seni publik. Ini merupakan upaya kolektif untuk merayakan sejarah kota.
Program “Titik Temu” juga menjadi langkah strategis dalam mendukung peningkatan posisi Jakarta sebagai kota global. Saat ini, Jakarta berada di peringkat ke-74 dari 156 kota dunia. Targetnya adalah masuk dalam 20 besar pada tahun 2045, menunjukkan ambisi besar kota ini.
WCCF: Wadah Kolaborasi Global untuk Pembangunan Budaya Kota
Selain Kolaborasi Jakarta Milan, sejumlah kota besar lain juga terpilih dalam program LEP 2025. Kota-kota tersebut antara lain London, New York, Barcelona, São Paulo, Toronto, dan Dubai. Ini menunjukkan cakupan global dari inisiatif ini.
Secara keseluruhan, partisipan program ini mencakup 19 kota dunia. Beberapa di antaranya adalah Amsterdam, Boston, Cologne, Guangzhou, Kyiv, Los Angeles, Montréal, San Francisco, Stockholm, Vancouver, dan Warsawa. Jaringan ini sangat luas dan beragam.
Sejak diluncurkan pada 2018, LEP telah memberdayakan lebih dari 185 pemimpin dari 22 kota di seluruh dunia. Program ini terbukti mendorong replikasi kebijakan yang sukses, menumbuhkan ide-ide inovatif, dan mempercepat perubahan positif bagi pembangunan kota.
WCCF sendiri merupakan jaringan global yang menghimpun para pemimpin dari lebih 45 kota kreatif di enam benua. Forum ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan, kebijakan, dan riset. Tujuannya adalah memperkuat peran budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews