Fadli Zon: Taufiq Ismail Adalah Bapak Sastra Indonesia
Selain aktif menulis, Taufiq juga rajin mengajak sastrawan ke sekolah-sekolah untuk menginspirasi pelajar menjadi penulis dan pembaca sastra.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut penyair legendaris Taufiq Ismail sebagai Bapak Sastra Indonesia karena dedikasinya dalam dunia sastra dan budaya sejak 1950-an.
“Kalau H.B. Jassin itu seringkali mendapat julukan Paus Sastra Indonesia, menurut saya Taufiq Ismail adalah Bapak Sastra Indonesia,” ujar Fadli saat Peringatan Hari Sastra ke-12 dan Peluncuran Buku 90 Tahun Taufiq Ismail di Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (25/6).
Fadli menyebut, Taufiq adalah penyair organik yang selalu hadir dalam pergeseran budaya, sosial, dan politik di Indonesia. Puisi-puisinya yang mengangkat isu sosial, tirani, religi, alam, dan kemanusiaan dinilai tetap relevan hingga kini.
Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri majalah sastra Horizon bersama Mochtar Lubis, PK Ojong, Zaini, dan Arief Budiman pada tahun 1966. Selain aktif menulis, Taufiq juga rajin mengajak sastrawan ke sekolah-sekolah untuk menginspirasi pelajar menjadi penulis dan pembaca sastra.
“Sebagai penyair lintas zaman, Taufiq Ismail telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan sastra Indonesia. Waktu, tenaga, dan pikirannya tak pernah lepas dari dunia sastra dan budaya,” lanjut Fadli.
Fadli juga mengapresiasi Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kini dikembangkan menjadi Museum Sastra Indonesia. Museum ini menjadi bukti nyata dedikasi Taufiq dalam melestarikan puisi dan karya sastra nasional.
Peluncuran Buku
Dalam acara tersebut, juga diluncurkan buku “Mengakar ke Bumi dan Menggapai ke Langit”, diterbitkan dalam enam jilid sebagai refleksi 90 tahun usia Taufiq Ismail. Judul ini diambil dari antologi puisi Taufiq yang mencerminkan keseimbangan antara nilai tradisi dan semangat pembaruan.
Fadli menegaskan, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat posisi sastra dalam pemajuan kebudayaan nasional sebagaimana tertuang dalam UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Langkah tersebut antara lain melalui pembentukan laboratorium penerjemahan sastra, penguatan promosi dan festival sastra, hingga pengembangan komunitas dan talenta nasional bidang sastra.
“Diharapkan sastra kita tumbuh secara masif dan merata hingga ke pelosok, serta menjadi sarana konkret memperkuat jati diri bangsa,” pungkas Fadli seperti dilansir dari Antara.