Epidemiolog: Belum Waktunya Menghentikan PTM Selama Mal & Kafe Masih Buka
PTM harus dihentikan ketika situasi pandemi di masyarakat memburuk. Misalnya, dengan naiknya positivity rate di atas 5 persen.
Epidemiolog Dicky Budiman berpandangan, penemuan kasus Covid di sekolah belum menjadi alasan untuk kembali menghentikan PTM dan menutup sekolah. Walaupun terpantau adanya peningkatan kasus.
"Saat ini belum. Walaupun kasus meningkat, belum. Saya sampaikan belum (PTM ditutup)," kata dia, kepada Merdeka.com, Sabtu (15/1).
PTM harus dihentikan ketika situasi pandemi di masyarakat memburuk. Misalnya, dengan naiknya positivity rate di atas 5 persen.
"Kecuali test positivity rate di daerah situ sudah di atas 5 persen ya harus (ditutup). Dan atau kasus di rumah sakit meningkat. Yang karena covid. Ini yang akan harus menjadi pertimbangan," terang Dicky.
Dia menegaskan bahwa sekolah juga merupakan sektor prioritas yang harus tetap berjalan. Dia bahkan membandingkan sekolah dengan mal dan kafe yang tetap dibuka.
"Karena sekolah itu posisinya berbeda. Sekolah itu lebih penting daripada mal. Jadi kalau mal masih buka, kafe masih buka, sekolah ditutup itu salah. Karena berarti kita tidak memprioritaskan yang prioritas. Itu salah. Dan merugikan kita nanti. Panjang ruginya," katanya.
Karena itu, ketika penyebaran Covid-19 di masyarakat buruk, yang ditandai dengan naiknya positivity rate, maka semua sektor yang memungkinkan terjadinya interaksi mesti ditutup.
"Tapi enggak boleh cuma sekolah (PTM ditutup). Yang lain juga begitu. Kalau cuma sekolah tidak efektif," katanya.
Baca juga:
Dukung PTM 100 Persen, BIN Percepat Vaksinasi Anak di Tiga Kabupaten Jatim
Kasus Covid-19 di 10 Sekolah, DPRD DKI Minta PTM 100 Disetop Sementara
Ada Siswa Positif Covid-19, SDN Jati 01 Pulogadung Setop Sementara PTM
Satgas Covid-19 Minta Sekolah Tatap Muka 100 Persen Dievaluasi
SMAN 6 Jakarta Setop PTM 5 Hari Usai Ada Siswa Positif Covid-19