LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Ekspedisi Pamalayu, Benarkah Dulu Singasari Menaklukkan Melayu?

Sutan Riska menceritakan pengalamannya di Museum Nasional saat dia berada di sebelah arca Bhairawa, yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya. Saat itu di mendengar pemandu menjelaskan kepada pengunjung dengan mengatakan bahwa arca Bhairawa adalah bukti Majapahit menguasai Sumatera.

2019-08-23 04:33:00
Sejarah Indonesia
Advertisement

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengkritik narasi sejarah yang selama ini tercatat terkait ekspedisi Pamalayu. Dalam catatan sejarah tertulis, sekitar 750 tahun lalu disebutkan pelayaran Kerajaan Singosari menuju Sumatera atau tepatnya Kerajaan Dharmasraya sebagai upaya penaklukan Singosari atas Dharmasraya atau penaklukan Jawa atas Sumatera.

Menurutnya hal itu keliru dan dianggap ganjil oleh para generasi muda Dharmasraya. Dia pun mempertanyakan narasi 'penaklukan' yang tercatat dalam arsip.

"Kami sebagai generasi penerus Dharmasraya merasa ada yang aneh dengan narasi penaklukan. Kalau memang penaklukan, mungkinkah mereka membawa hadiah arca Amogapasa untuk Raja Dharmasraya? Sementara arca Amogapasa adalah lambang kasih sayang. Kalau memang penaklukan, mungkinkah Singosari membawa dua putri Dharmasraya; Dara Petak dan Dara Jingga yang kemudian menjadi istri raja di Jawa, anak dari putri itu kemudian menjadi penguasa di Pulau Jawa. Apakah itu sebuah penaklukan?" jelasnya dalam pembukaan Festival Pamalayu dan juga diskusi Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (22/8)

Advertisement

Dalam kesempatan itu, Sutan Riska menceritakan pengalamannya di Museum Nasional saat dia berada di sebelah arca Bhairawa, yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya. Saat itu di mendengar pemandu menjelaskan kepada pengunjung dengan mengatakan bahwa arca Bhairawa adalah bukti Majapahit menguasai Sumatera.

"Itu salah sekali. Mohon maaf sebelumnya, koleksi patung yang di museum ini adalah berasal dari negeri Dharmasraya tidak dituliskan dengan jelas asalnya," jelasnya.

Festival Pamalayu yang akan berakhir pada 7 Januari 2020 ini juga bertujuan untuk mengangkat kembali ekspedisi Pamalayu. Dengan maksud untuk meluruskan apa yang selama ini keliru dinarasikan.

Advertisement

"Begitulah jauhnya kita meninggalkan sejarah. Inilah yang hendak kita luruskan agar generasi penerus bisa kembali kepada alur sejarah, minimal dimulai dari gedung yang bertuah ini. Jadi inilah salah satu dasar kami mengadakan Festival Pamalayu berangkat dari sejarah ekspedisi Pamalayu, sebuah ekspedisi yang dilakukan oleh Kerajaan Singosari menuju kerajaan Dharmasraya yang disebut sebagai negeri emas," terangnya.

Ekspedisi Bukan Operasi Militer

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid langsung menanggapi protes dari Bupati Dharmasraya. Hilmar meminta langsung kepada Kepala Museum Nasional untuk mengganti keterangan terkait arca Bhairawa yang ada di Museum Nasional.

"Hal yang perlu kita koreksi. Segera, Pak. Di sini Kepala Museum Nasional ada juga bersama kita. Ini cepat saja kalau memang harus dikoreksi hari ini kita kerjakan," ujarnya.

©2019 Merdeka.com/hari ariyanti

Terkait ekspedisi Pamalayu yang dinarasikan sebagai upaya penaklukan, Hilmar menyampaikan penggunaan kata 'ekspedisi' jika ditinjau dari historiografi adalah istilah yang dipakai orang Belanda ketika membicarakan ekspansi kekuasaan ke seluruh Nusantara.

"Boleh jadi di dalam historiografi kita, ekspedisi Pamalayu ini masuk dalam historiografi nasional kita karena tidak disaring lagi sehingga menggunakan tata bahasa ekspedisi," jelasnya.

Sejarawan ini menyampaikan, perlunya meninjau kembali istilah yang digunakan dalam penulisan sejarah (historiografi). Karena pemilihan kata juga memiliki esensi penting.

"Mungkin kita memikirkan kembali istilah-istilah yang kita gunakan itu. Saya kira urusan kata-kata ini menjadi sangat penting di dalam penulisan sejarah dan pemahaman sejarah kita," ujarnya.

Di masa kerajaan dulu, kerajaan Singosari melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk membuka hubungan. Dalam setiap hubungan antar kerajaan, ada hal manis dan pahit yang tercatat di dalam sejarah. Dia juga menerangkan bahwa Singosari pada masa itu melakukan perjalanan tidak dalam posisi dominan untuk menguasai yang lain. Hubungan pernikahan antar anggota kerajaan dan juga pemberian arca merupakan tanda bahwa ekspedisi itu merupakan perjumpaan antara dua kekuatan yang setara. Dasar interaksi antara kerjaan bukan untuk mengalahkan yang lain tapi demi kemakmuran bersama.

"Tentu dalam hubungan itu ada manisnya, ada pahitnya. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan-kenyataan seperti itu," jelasnya.

"Sekarang 750 tahun setelah terjadinya peristiwa sejarah itu bagaimana kita ingin memahaminya. Saya kira itu adalah topik dari diskusi kita. Kita melihat kembali sejarah secara jernih," lanjutnya.

Dirjen Kebudayaan, lanjutnya, mendukung penuh upaya meninjau dan menuliskan kembali sejarah ekspedisi Pamalayu agar tidak dilupakan dan tidak ada kekeliruan. Dengan demikian para generasi muda lebih mengenal sejarahnya.

Baca juga:
Hadirkan Bondowoso Era Kolonial Lewat Foto-Foto Tropen Museum KITLV Belanda
Dibuka Gratis, Festival Indonesia Maju Akan Tampilkan Sejarah Kepresidenan
Pamerkan Barang Antik Koleksinya, Fadli Zon Paling Berkesan dengan Surat Bung Karno
Kisah Anak Petani Zaman Penjajahan: Cuma Boleh 'Sekolah Surga' yang Diawasi Centeng
Tiong Hoa Hwee Kwan yang Mendahului Boedi Oetomo
Sumpah Pemuda Peranakan Arab untuk Indonesia

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.