Edukasi Mangrove Parimo: Puluhan Pelajar SD Diajak Jaga Ekosistem Pesisir dan Kelola Sampah
Puluhan pelajar SD di Parigi Moutong (Parimo) mengikuti program edukasi mangrove Parimo dan pemilahan sampah, membentuk generasi peduli lingkungan sejak dini.
Sebanyak 50 pelajar Sekolah Dasar (SD) 2 Inpres Desa Tada, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, mendapatkan edukasi penting tentang ekosistem mangrove dan pemilahan sampah. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan pada generasi muda.
Program edukasi ini difasilitasi oleh kelompok pemuda peduli mangrove dan kelompok bank sampah Nagali Desa Oncone Raya, Tinombo Selatan. Inisiatif ini dilaksanakan selama dua hari, dimulai pada hari Sabtu, sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan.
Para siswa kelas IV dan V SD tersebut tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik menanam benih mangrove di polybag. Mereka juga belajar cara mengelola sampah yang benar untuk menjaga kebersihan pesisir pantai Parimo.
Pentingnya Edukasi Lingkungan Sejak Dini
Ketua Kelompok Bank Sampah Desa Oncone Raya, Muhajir, menegaskan bahwa pengenalan mangrove dan pemilahan sampah adalah program utama kelompoknya. Tujuannya adalah menyebarluaskan kesadaran serta kepedulian anak-anak pelajar terhadap pentingnya ekosistem mangrove dan pengolahan sampah. Muhajir menyatakan, “Pengenalan terkait mangrove dan pemilahan sampah merupakan program kerja kelompok kami, guna menyebarluaskan maupun membangun kesadaran serta kepedulian anak-anak pelajar pentingnya ekosistem mangrove dan pengolahan sampah melalui pemilahan sampah, pada Sabtu.”
Program edukasi mangrove Parimo ini dirancang agar para siswa memahami dampak positif dari menjaga lingkungan. Melalui kegiatan ini, diharapkan mereka dapat menjadi agen perubahan di masa depan.
Guru SD Inpres 2 Tada, Virawati, menambahkan bahwa anak-anak sebagai generasi penerus harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini terutama terkait pengelolaan sampah dan pemulihan mangrove yang sangat krusial bagi kelestarian alam.
Virawati menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya sampah. Sampah dapat merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik, namun juga memiliki nilai ekonomis jika diolah.
Aksi Nyata Pelestarian Mangrove dan Pengelolaan Sampah
Edukasi tentang pemilahan sampah dan mangrove sejak sekolah dasar tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan. Virawati menuturkan, "Dengan memahami cara mengelola sampah, siswa dapat menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan."
Sebagai aksi nyata dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Sedunia, para pelajar bersama kelompok pemuda dan bank sampah melakukan pembersihan sampah di pesisir pantai. Mereka juga menanam sebanyak 2.560 mangrove di kawasan rehabilitasi Desa Oncone Raya.
Direktur Program Perkumpulan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA), Rizal, menekankan bahwa lingkungan bersih dan sehat adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan perlu diperkenalkan sejak dini.
Rizal menambahkan bahwa melalui gerakan itu, siswa SD dapat memahami bahwa tindakan sederhana mereka setiap hari dapat memberikan dampak besar. Dampak tersebut sangat signifikan bagi kelestarian lingkungan di masa mendatang.
Masa Depan Lingkungan di Tangan Generasi Muda
Pendidikan lingkungan, termasuk edukasi mangrove Parimo dan pemilahan sampah, membekali anak-anak dengan pemahaman penting. Mereka diajarkan bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang bisa ditunda hingga dewasa.
Rizal menegaskan, “Menjaga lingkungan bukanlah tugas yang dapat ditunda hingga dewasa. Menjaga lingkungan sudah seharusnya diperkenalkan kepada anak sejak di bantu sekolah supaya mereka memiliki bekal, bahwa masa depan bumi bergantung pada tindakan nyata yang dimulai dari sekarang."
Inisiatif di Parimo ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi komunitas dan sekolah dapat membentuk kesadaran lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan generasi yang lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap alam.
Diharapkan, program edukasi berkelanjutan seperti ini akan terus dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa nilai-nilai pelestarian lingkungan tertanam kuat pada setiap anak di wilayah pesisir.
Sumber: AntaraNews