LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

DPR sebut Kampung Dalam Pekanbaru sarang narkoba bak Kampung Ambon

"Persoalan Narkotika di Kampung Dalam tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya," ujar Kapolres.

2015-03-17 16:43:27
Kasus Narkoba
Advertisement

Anggota DPR RI, Mulfahri Harahap menyebut Kampung Dalam Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru merupakan daerah yang dikenal dengan sebutan 'kampung Narkoba'. Mulfahri mengibaratkan Kampung Dalam seperti Kampung Ambon yang ada di DKI Jakarta.

Anggota Komisi III DPR ini pun mempertanyakan permasalahan tersebut kepada jajaran kepolisian di Riau, khususnya di Pekanbaru yang mana sebagai wilayah hukumnya belum maksimal dalam memberantas peredaran narkotika. Ketua rombongan Komisi III yang berdiskusi dengan Kapolda Riau Brigjen Dolly Bambang Hermawan dan jajarannya di Mapolda Riau, Selasa (17/3), Mulfahri Harahap menjelaskan, kedatangan mereka untuk mengetahui kondisi sebenarnya di Riau.

"Ini akan menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kami. Riau menjadi daerah rawan lalu-lintas peredaran narkotika. Jadi bahan diskusi kami di Komisi III, akan kami bawa dan diskusikan," kata Mulfahri.

Bahkan, seorang anggota Komisi III lainnya dalam diskusi tersebut nyeletuk dengan mengatakan nama buruk Kampung Dalam tidak akan hilang sepanjang polisi tidak serius menanganinya.

"Sebuah perkampungan narkoba trademark nya tidak akan hilang jika tidak ditangani dengan serius," ujar seorang anggota komisi III dalam diskusi yang digelar di Ruang Tribrata Mapolda Riau.

Wilayah Riau yang berada di jalur lalu-lalang peredaran narkotika dari luar dan dalam negeri menjadi catatan khusus komisi bidang Hukum ini. Menanggapi persoalan tersebut, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Robert Haryanto Watratan beralasan persoalan Narkotika di Kampung Dalam tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya.

"Itu kita tahu, dulu itu kampung lundup. Sekarang lundup tidak ada lagi, mereka kerja apa, makanya berkembang kriminal, khususnya narkotika di sana," kata Robert usai pertemuan.

Menurut Robert, penanganan persoalan ini harus dilakukan secara bersama, tidak bisa dilakukan parsial kepolisian saja. Pihak pemerintah daerah, dan Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Riau.

Robert juga mengatakan persoalan Kampung Dalam tidak bisa dilakukan secara preventif, dengan penangkapan terhadap pelaku pengedar dan pemakai narkoba saja.

"Saya kira tahu bersama Kami Polresta Pekanbaru tidak tidur. Kami lakukan penindakan bahkan sudah sampai narapidana yang dari kampung dalam. Penyelesaiannya tidak parsial, semua harus terlibat, polisi, Pemko, BNNP, semua harus komprehensif. Jadi polisi tidak hanya datang melakukan pemberantasan," kata dia.

Namun, kata Robert, sedang mencuat trend saat ini di kota Pekanbaru, pengedar dan pelaku narkotika sudah bergeser dari Kampung Dalam ke kawasan Panger (Jalan Pangeran Hidayat)."Sekarang sudah mulai ke Panger," jelasnya.

Baca juga:
Diet Pepaya: Berat badan turun dalam seminggu!
Kisah Mbah Jirah, nenek 90 tahun hidup di gubuk reyot dengan Semut
Lima negara paling sukses pindahkan ibu kota
Bersih-bersih loyalis Ical di DPR, Setya Novanto selamat
3 Mitos tentang oral seks dan PMS ini akhirnya terpatahkan!
7 Tempat ini jadi bukti kalau perbedaan keyakinan bisa menyejukkan

Jangan lewatkan:
Transformasi Penyanyi Cilik Indonesia Tahun 90-an
Rahasia kepuasan seks di balik orgasme kilat
Tragis, balita tersangkut layang-layang lalu tewas terjatuh
Cara gampang jadi warga negara Amerika ala Miss Indonesia 2006
Melihat pembuatan panser Anoa & tank AMX-13 di pabrik senjata Pindad
Pamer ratusan traktor di Ponorogo, Jokowi bikin petani kecewa

Advertisement
(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.