LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Dosen Farmasi UGM Olah Limbah Cangkang Udang jadi Pestisida Ramah Lingkungan

Ronny menceritakan bahwa produk nanokitosan temuannya berawal dari keprihatinan terhadap penggunaan pestisida yang cukup tinggi untuk membasmi hama di perkebunan sayur dan buah daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah. Penggunaan pestisida dalam jumlah besar oleh petani ini dianggapnya berbahaya.

2019-01-12 06:05:00
Penelitian Ilmiah
Advertisement

Peneliti dan dosen Pascasarjana Fakultas Farmasi UGM, Ronny Martien, menciptakan pestisida alami menggunakan bahan dari limbah cangkang udang dan kepiting. Pestisida alami ini diklaim lebih ramah lingkungan dan manusia dibandingkan dengan pestisida kimia yang kerap dipakai petani.

Ronny mengungkapkan, dalam cangkang kepiting dan udang terkandung senyawa kitin. Senyawa ini kemudian diubah oleh Ronny menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel yang berwujud cair.

Ronny menceritakan bahwa produk nanokitosan temuannya berawal dari keprihatinan terhadap penggunaan pestisida yang cukup tinggi untuk membasmi hama di perkebunan sayur dan buah daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah. Penggunaan pestisida dalam jumlah besar oleh petani ini dianggapnya berbahaya.

Advertisement

"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakukan para petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi ini berbahaya," ujar Ronny di Kantor Humas UGM, Jumat (11/1).

Melihat kondisi ini, Ronny tergerak untuk mencari solusi. Dia melakukan penelitian untuk menciptakan teknologi yang mampu melindungi tanaman dari kerusakan akibat serangan hama.

Karena telah lama menekuni kajian nanopartikel, muncul ide membuat nanokitosan guna melindungi tanaman dari hama.

Advertisement

"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi (coating) tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," urai pakar nanoteknologi ini.

Formula nanokitosan ini kemudian dinamai Dewaruci Chitosan. Produk ini kemudian diimplementasikan Ronny kepada petani di berbagai wilayah Indonesia antara lain di Kopeng, Tawangmangu, Kediri, dan Lombok Barat.

Dari hasil ujicoba, Dewaruci Chitosan hasil kembangan Ronny ini ramah lingkungan. Selain itu, mampu meningkatkan hasil panen.

Ronny menambahkan Dewaruci Chitosan juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet organik makanan. Misalnya, untuk mengawetkan buah, sayur, ikan maupun bahan pangan lainnya.

"Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga 3 bulan dan juga menjaga kualitas produk. Selain itu tidak akan mengubah rasa, tidak mengubah warna, tidak mengubah tekstur, tidak menimbulkan bau, serta aman dan alami," tutup Ronny.

Baca juga:
Dirahasiakan, 4 Temuan NASA Ini Malah Bocor ke Publik
Melihat Penelitian Energi Terbarukan dari Mikro Organisme Bawah Laut
Ilmuwan: Manusia Rata-rata Mampu Kenal 5.000 Wajah Berbeda
Manfaatkan Ampas Tebu, Mahasiswa ITS Ciptakan alat Penyaring Logam Merkuri
Penjelasan Ilmiah Soal Nikmatnya Mendengarkan Musik Sebelum Tidur
Meski Kurang Dikenal, 7 Dinosaurus ini Jauh Lebih Seram Dari T-Rex!
Wanita Juga Bakal Mengubah Suaranya Ketika Tertarik Lawan jenis

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.